Oleh: Supri Hartanto | 24 Agustus 2011

PRESTASI BELAJAR

1.  Prestasi Belajar

Menurut Gagne (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 10) belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan  hasil belajar yang berwujud kapabilitas. Setelah belajar seseorang memiliki ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut berasal dari  stimulasi dari lingkungan serta proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Dalam proses belajar, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan pelajaran. Kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik yang diajarkan menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar akan kemampuan dirinya.

Belajar adalah proses  yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai  bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuan, daya reaksi, para penerimaan, dan lain sebagainya

Belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi relatif lama atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya (Sugihartono, dkk, 2007: 74). Definsi belajar juga diungkapkan oleh Witherington (Aunurrahman, 2009: 35) dengan mendefinisikan belajar merupakan suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari interaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

Perubahan perilaku yang dimaksud mempunyai ciri-ciri (1) perubahan terjadi secara sadar; (2) perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional; (3) perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif; (4) perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara; (5) perubahan dalam belajar bertujuan; serta (6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2005: 2).

Lebih mendalam lagi tentang kriteria belajar disampaikan oleh Anita Woolfolk (2004: 198) yang memberi batasan tentang adanya perubahan yang permanen pada individu dalam belajar yaitu:

Learning occurs when experience causes a relatively permanent change in an individual’s knowledge or behavior. The change may be deliberate or unintentional, for better or for worse, correct or incorrect, and conscious or unconscious. To qualify as learning, this change must be brought about by experience – by the interaction of a person with his or her environment. Changes simply caused by maturation, such as growing taller or turning ray, do not qualify as learning. Tempory change resulting from illness, fatique, or hunger are also excluded from a general definition of  learning.  Temporary change result from illnes, fatique, or hunger are also excluded from a genereal definition of learning. Of course, learning plays a part in how we respond to hunger or illness.

Kriteria belajar lebih diarahkan kepada pengalaman yang relatif permanen untuk mengubah kemampuan individu maupun tingkah lakunya. Perubahan tersebut merupakan hasil pengalaman dan bukan karena perubahan yang sifatnya sementara seperti faktor kelelahan, kelaparan, sakit, karena perubahan tersebut hanya sementara dan merupakan dampak dari keadaan bukan pengalaman belajar.

Berdasarkan kriteria-kriteria belajar maka dapat ditemukan ciri umum dari kegiatan belajar yaitu adanya unsur kesenggajaan dalam belajar, adanya interaksi individu dengan lingkungan, serta adanya perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh hasil belajar. Belajar yang disengaja merupakan bentuk dari suatu aktivitas yang direncanakan baik secara jasmani maupun rohani. Interaksi antara individu dengan lingkungan memungkinkan individu memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru. Perubahan tingkah laku yang disyarakatkan dalam belajar adalah perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Pada dasarnya belajar tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar. Tahapan dari belajar adalah:

a.    Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi.

b.    Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi.

c.    Tahap retrieval, yaitu tahap pendekatan kembali informasi (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2010: 1).

Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa telah mampu mengerjakan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Kemampuan berprestasi tersebut dipengaruhi oleh proses-proses penerimaan, keaktifan, pra pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk membangkitkan pesan dan pengalaman (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 243).

Prestasi belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Guna memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan ketrampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan ketrampilan (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2010: 15).

Keberhasilan dalam memperoleh prestasi belajar digunakan tes untuk mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Tujuan ini membawa keharusan dalam konstruksinya untuk selalu mengacu pada perencanaan program belajar yang dituangkan dalam silabus masing-masing materi pelajaran. Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran di bidang pendidikan sebagai sumber informasi guna mengambil keputusan (Saifudin Azwar, 2010: 8).

Sehubungan dengan kegiatan pembelajaran di kelas, prestasi yang dicapai oleh siswa di samping dipengaruhi oleh bakat juga dipengaruhi oleh kesempatan belajar, kemampuan memahami bahan dan kualitas pembelajaran. Bakat ada kaitannya dengan kondisi dasar yang dimiliki untuk belajar. Kualitas pembelajaran sendiri bergantung pada tiga elemen yaitu kejelasan tugas-tugas belajar, ketepatan perjenjangan dan urutan bahan, serta efektifitas test yang dilaksanakan (Mulyasa, 2004: 54).

Prestasi belajar yang dicapai siswa secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar yang dicapai. Prestasi belajar siswa di sekolah 70% dipegaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan (Nana Sudjana, 2010: 39).

Prestasi belajar dapat dilakukan dengan menggunakan sistem belajar tuntas. Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajarinya. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan terlihat dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Mulyasa, 2004: 53).

Prestasi belajar tidak saja ditentukan oleh motivasi siswa dalam mempelajari materi pembelajaran, namun terdapat beberapa faktor yang juga ikut mempengaruhi prestasi atau kemampuan intelektual siswa diantaranya:

a.  Keturunan

     Studi korelasi nilai-nilai tes inteligensi diantara anak dan orang tua menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai pada tingkat tertentu.

b.  Latar belakang sosial ekonomi

     Pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya, berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai usia tiga tahun sampai dengan remaja.

c.  Lingkungan

     Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan kemampuan intelektual yang kurang baik pula. Lingkungan yang dinilai paling buruk bagi perkembangan inteligensi adalah panti-panti asuhan serta instansi lainnya, terutama bila anak ditempatkan di tempat tersebut sejak awal kehidupannya.

d.  Kondisi fisik

     Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kemampuan mental anak yang rendah.

e.  Iklim emosi

     Iklim emosi saat individu dibesarkan, mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan (Slameto, 2005: 131).

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan peserta didik juga diungkap oleh Celia Anita Decker (2004:  27):

Heredity and environment influence growth and development. Heredity includes all the traits that are passed to a child from blood relatives. Environment includes all the condition and situations that affect a child.

Faktor keturunan dan lingkungan akan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan peserta didik. Faktor keturunan  merupakan faktor yang diturunkan oleh orang tuanya berdasarkan persamaan darah. Faktor lingkungan juga mempengaruhi perkembangan peserta yaitu semua kondisi dan situasi yang mempengaruhi peserta didik dari luar dirinya.

Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu, dan penguasaan bahan yang lengkap. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa agar memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehingga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan dan menguasai bahan belajar secara maksimal.

Guna mencapai prestasi belajar yang maksimal, perlu diperhatikan prinsip-prinsip belajar yaitu strategi belajar yang dapat dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang berbeda oleh setiap siswa. Prinsip-prinsip belajar tersebut antara lain:

a.  Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar

1)    Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2)    Belajar harus dapat menimbulkan penguatan (reinforcement) dan motivasi  yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

3)    Belajar perlu lingkungan yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuannya berkresplorasi dan belajar dengan efektif.

b.  Sesuai dengan hakikat belajar

1)    Belajar merupakan proses yang kontinu, maka harus tahap demi tahap menurut perkembangnnya.

2)    Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

3)    Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan.

c.  Berdasarkan materi yang dipelajari

1)    Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.

2)    Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

d.  Berdasarkan syarat keberhasilan belajar

1)    Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga siswa dapat belajar lebih tenang.

2)    Repetisi dalam proses belajar perlu dilakukan agar pengertian, ketrampilan dan sikap itu tertanam mendalam pada diri siswa (Slameto, 2005:  28).

Prestasi belajar siswa juga dapat dikaitkan dengan tingkat kecerdasan peserta didik. Upaya untuk mengetahui tingkat kecerdasan telah dilakukan oleh para ahli psikologi, antara lain pada tahun 1905 Alfred Binet mengembangkan test intelegensi yang digunakan secara luas. Binet berhasil menemukan cara untuk menentukan usia mental seseorang. Usia mental mungkin lebih rendah, lebih tinggi atau sama dengan usia kronologis (usia yang dihitung secara kelahirannya). Anak yang cerdas akan memiliki usia mental lebih tinggi daripada usianya sendiri, karena mampu mengerjakan tugas-tugas untuk anak yang usianya lebih tinggi (Mulyasa, 2004: 121).

Alfred Binet belived that to evaluate intelligence, you must devise direct measures of complex processes such as reasioning and problem solving, the ability to use pas experience to solve present problems, you cannot simply infer complex processes from simple’ skills (Paul Mussen and Mark R.  Rosenzweig, 1973:  352).

Alfred Binet percaya bahwa untuk mengevaluasi kepandaian seseorang, perlu menggunakan pengukuran proses yang komplek seperti tingkat pemikiran dan bagaimana seseorang dapat menyelesaikan masalah. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut tidak akan dapat terselesaikan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan yang komplek.

Siswa yang prestasi belajarnya kurang maksimal perlu mendapatkan bimbingan dari guru maupun konselor di sekolah. Bimbingan belajar dalam hal ini adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar dalam lembaga pendidikan. Kurang berhasilnya siswa dalam memperoleh prestasi yang maksimal disebabkan karena (a) kemampuan belajar yang rendah; (b) motivasi belajar yang rendah; (c) minat belajar yang rendah; (d) tidak berbakat pada mata pelajaran tertentu; (e) kesulitan berkonsentrasi dalam belajar; (f) sikap belajar yang tidak terarah; (g) perilaku mal adaptif dalam belajar seperti suka memganggu teman ketika belajar; (h) gagal ujian; (i) tidak naik kelas dan sebagainya (Tohirin, 2007: 130).

Kadangkala pada kasus-kasus tertentu sering ditemukan bahwa siswa dengan inteligensi yang rendah, di bawah rata-rata normal, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar. Hal ini disebabkan cara berpikirnya lambat sehingga siswa mengalami kesukaran beradaptasi dengan teman-teman sekelasnya. Rendahnya prestasi belajar  siswa tersebut tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, siswa dengan inteligensi yang rendah ditempatkan di kelas-kelas khusus dengan pelayanan yang khusus pula (Syaiful Bahri Djamarah, 2008: 136).

Orang tua dapat membantu proses permasalahan belajar dengan berbagai cara antara lain:

a.    Berusaha membantu anak belajar, misalnya bagaimana mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas lain.

b.    Berdiskusi tentang keadaan sekolah dan kesulitan belajar pada umumnya.

c.    Melengkapi pendidikan umum di sekolah formal dengan pendidikan agama di keluarga.

d.    Memberikan kerampilan non formal.

e.    Menciptakan lingkungan keluarga yang cinta akan belajar (Sofyan S. Wilis, 2009: 175).

 DAFTAR PUSTAKA

(Hubungi FB, akan dikirim via email)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: