Oleh: Supri Hartanto | 24 Agustus 2011

MOTIVASI BELAJAR

1. Motivasi Belajar

Pengertian motivasi secara etimologis, berasal dari bahasa latin yaitu motivum  yang menunjukkan pada alasan tentang mengapa sesuatu itu bergerak (Dwiwandono, 2002: 329). Motivasi dalam arti yang lebih luas adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi maka aktivitasnya dilaksanakan sesuai dengan motivasi yang mendasarinya (Uno, 2008: 1).

Woolfolk (2004: 388) memberi definisi tentang motivasi yaitu:

Motivation is an internal state that arouses, directs, and maintains behavior. The study of motivation focuses on how and why people initiate actions directed toward specific goals, how intensively they are involved in the activity, how persistent they are in their attemps to reach these goals, and what they are thinking an feeling along the way.

Motivasi merupakan pendorong, pengarah perilaku individu. Pembelajaran tentang motivasi dicokuskan pada bagaimana siswa dapat mengidentifikasi terhadap keinginan spesifik yang menjadi tujuan hidupnya, seberapa intensif, termasuk aktivitas dan persepsi tentang kehidupan. Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan ke arah tertentu, yang sebelumnya tidak ada gerakan menuju ke arah tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal serta intensif di luar diri individu (Hamalik, 2009: 173). Pendapat yang hampir sama disampaikan oleh Mulyasa (2005: 174) bahwa motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Motivasi tersebut akan menumbuhkan dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan.

Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila seseorang tidak suka, maka akan berusaha meniadakan perasaan tidak suka itu (Sardiman, 2007: 75). Motivasi merupakan dorongan untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan agar tetap hidup. Dorongan inilah yang menggerakkan dalam mengarahkan perhatian, perasaan dan perilaku atau kegiatan seseorang. Motivasi tidak saja merupakan fungsi pemenuhan kebutuhan, tetapi dipahami sebagai kerangka pikir yang melibatkan kebutuhan, tujuan, sistem  nilai, persepsi pribadi dan pengalaman (Suciati, 2005: 34).

Berdasarkan paparan tentang pengertian motivasi dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi merupakan sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas. Motivasi dapat diperoleh secara ekstenal dan internal. Motivasi yang diperoleh secara eksternal adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang, sedangkan motivasi internal adalah motivasi yang berasal dari diri seseorang yang lebih bersifat permanen.

Motivasi mempunyai fungsi terhadap diri siswa, yaitu:

a.    Mendorong siswa untuk berbuat, jadi sebagai penggerak yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b.    Menentukan arah perbautan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Motivasi dapat memberikan arah da kegiatan yang harus dikerjakan sesuatu dengan rumusan masalahnya.

c.    Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut (Sardiman, 2007: 75).

Pada perkembangan awal definisi motivasi, terjadi penggolongan motivasi yaitu motivasi yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik:

A classic distinction in motivation is between intrinsic and extrinsic. Intrinsic motivation is the natural tendency to seek out and conquear challenges as we pursue personal interests and excise capabilities. In contrast, whe we do something in order to earn a grade, avoid punishment, please the teacher, or for some other reason that has very little to do with the taks itself, we expeerience  extrinsic motivation (Wollfolk, 2004: 351).

Motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu yang bersifat instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik ditandai dengan dorongan yang berasal dari dalam diri siswa untuk berperilaku tertentu, sedangkan motivasi ekstrinsik dipengaruhi faktor dari luar siswa.  Kondisi ideal  yang  dimiliki  siswa  sebaiknya  motivasi intrinsik, karena jenis motivasi ini lebih bersifat konstan atau permanen dibanding dengan motivasi ekstrinsik.

Terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi motivasi, antara lain:

a.   Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahan-perubahan tertentu di dalam sistem neurofisiologis dalam organisme manusia.

b.   Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif.

c.   Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-repons yang tertuju ke arah suatu tujuan. Respons-respons itu berfungsi megurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya (Hamalik, 2009: 174).

Ketiga kriteria tentang motivasi, dapat dianalisis bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoala gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk bertindak. Semua itu didorong karena adanya tujuan, kebutuhan dan keinginan.

Terdapat beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, menurut Suciati (2005: 11) teori-teori yang menguatkan tentang motivasi adalah:

a.  Teori Kebutuhan Maslow

Teori Maslow berpendapat bahwa manusia tersusun dalam bentuk hierarki, terdiri dari lima tingkat. Kebutuhan tingkat yang lebih rendah harus terlebih dahulu dipenuhi sebelum kebutuhan pada tingkat yang di atasnya berfungsi. Pemahaman tentang teori Maslow dijelaskan oleh Decker (2004; 40), yang menyatakan bahwa:

Maslow, a note psychologist, believed that development is a result of meeting personal needs. His theory states all people work to fulfill basic needs and higher-level needs. Basic needs are both psysiological (related to the body) and psychological (related to feelings). Maslow divides basic needs into four categories. One category incudes all physiological needs. The other three categories are the psychological needs of safety; belonging and love; and esteem. In addition to basic needs, Maslow also created a category for higher-level needs, which he called self-actualization needs.  These are the needs to grow and feel fulfilled as a person. They include the drive to pursue talents and hobbies, gain skills, and learn more about the word.

Maslow penyatakan bahwa dalam perkembangan manusia membutuhkan pentahapan kebutuhan dasar sampai kebutuhan yang tinggi. Dalam teori Maslow kebutuhan dasar menyangkut pada fisik dan psikologis. Maslow membagi kebutuhan dasar menjadi empat kategori dari kebutuhan fisik, rasa aman, cinta maupun perasaan dihargai. Pada level yang lebih tinggi Maslow membuat kategori aktualisasi diri yang merupakan puncak dari teori kebutuhan sehingga siswa dapat mengatur dirinya untuk menyalurkan kemampuan, hobi maupun mempelajari berbagai kajian ilmu di dunia.

Penjelasan tentang teori Maslow juga dikuatkan dengan paparan dari Woolfolk (2004: 353) yaitu:

Abraham Maslow suggested that humans have a hierarchy of needs ranging from lower-level needs for survival and safety to higher-level needs for intellectual achievement and finally self-actualization. Self-actualization is Maslow’s term for self-fulfillment, the realization of personal potential. Each of the lower needs must be met before the next higher need can be addressed.

 

Abraham Maslow percaya bahwa manusia mempunyai hirarki kebutuhan dari kebutuhan dasar sampai dengan kebutuhan tinggi. Pada level dasar manusia adalah bertahan hidup dan keamanan. Pada kebutuhan tingkat tinggi  manusia sampai pada level aktualisasi diri untuk dapat mengembangkan segala potensinya.  Secara terperinci teori kebutuhan Maslow dijabarkan sebagai berikut:

1)  Kebutuhan Fisik

Manusia selalu memenuhi kebutuhan fisik yang sangat mendasar seperti pangan, sandang dan papan. Kebutuhan fisik yang mempengaruhi motivasi misalnya siswa yang lapar karena tidak sarapan pagi, atau merasa kedinginan karena tidak mempunyai sepatu, akan mempengaruhi konsentrasi belajarnya.

2)  Kebutuhan Rasa Aman

Apabila kebutuhan fisik terpenuhi, seseorang akan berusaha memenuhi kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu rasa aman dari kegelisahan, ancaman dan kebutuhan untuk berada dalam situasi yang aman. Kebutuhan ini nampak pada siswa di dalam kelas misalnya siswa yang merasa tangan dan kakinya dingin sebelum melakukan pidato atau menyanyi di depan kelas. Hal ini dapat disebabkan rasa tidak aman, kuatirakan dinilai jelek oleh guru dan teman-temannya.

3)  Kebutuhan menjadi Bagian dari Satu Kelompok

Manusia mempunyai keinginan menjadi bagian dari suatu kelompok untuk dapat saling memberi serta menerima perhatian dan penghargaan. Hal tersebut dapat diamati dari tingkah laku siswa yang berusaha menjaga hubungan baik dengan teman-temannya, dan apabila guru juga bersikap serupa, hal ini dapat membantu siswa untuk mempunyai motivasi belajar di sekolah.

4)  Kebutuhan untuk dihargai

Seseorang mempunyai kebutuhan untuk diakui dan dihargai berdasarkan kemampuan dan kualitas yang dimilikinya. Pada dasarnya siswa ingin dihargai orang lain sebagai bukti keberagaman mereka diterima oleh siswa lainnya.

5)  Kebutuhan Aktualisasi Diri

Menurut Maslow kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang tertinggi. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan keinginan untuk mengembangkan diri semaksimal mungkin. Perwujudannya terlihat dari keinginan untuk mempelajari hal-hal baru, menikmati keindahan lukisan atau seni, atau keinginan untuk memiliki hidup yang seimbang dalam berbagai kehidupan. Seseorang yang dimotivasi oleh kebutuhan ini lebih bersikap mandiri dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Motivasi ini terlihat  dari  sikap  siswa  yang  menyenangi  belajar tanpa harus didorong dengan hasil nilai belajar, perhatian guru yang berlebihan atau berbagai peraturan untuk membuatnya belajar (Suciati, 2005: 11).

b. Kebutuhan untuk Berprestasi

Menurut McClelland dan Atkinson, motivasi yang paling penting adalah motivasi berprestasi, karena seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses (Djiwodono, 2009: 351). Kebutuhan untuk berprestasi contohnya bila siswa akan mengerjakan tugas yang sulit, cenderung untuk memilih teman kerja yang cocok dalam melakukan tugasnya. Siswa-siswa yang termotivasi untuk berprestasi akan tetap melakukan tugas lebih lama dari pada siswa-siswa yang kurang berprestasi, walaupun siswa tersebut pernah mengalami kegagalan. Siswa yang termotivasi untuk mencapai prestasi mengharap tetap sukses walaupun pernah gagal.

Kebutuhan untuk berprestasi merupakan keinginan untuk berprestasi dijelaskan sebagai motif untuk mencapai suatu standar kualitas. Seseorang yang digerakkan oleh motivasi ini, akan berusaha melakukan usahanya atau pekerjaan sebaik mungkin, tanpa memikirkan apakah hasilnya akan menungunkan atau tidak.

Terdapat sikap-sikap tertentu yang membedakan seseorang yang mempunyai kebutuhan yang tinggi untuk berprestasi dengan orang yang tidak mempunyai motivasi berprestasi, salah satu contohnya, siswa dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung mempunyai ketahanan (persistence) yang tinggi dalam melakukan tugas, tidak cepat menyerah. Siswa tersebut cenderung mempunyai hasil kerja yang baik meskipun tidak diawasi oleh guru. Oleh karena itu dalam hal bersosialisasi dengan teman, lebih didasari kepada kemampuan yang dimiliki teman lain daripada keramahan atau rasa senang (Suciati, 2005: 12).

c.  Teori Atribusi

Teori atribusi menjelaskan bahwa faktor kognisi mempengaruhi dan pola prilaku. Seseorang akan melakukan suatu perilaku beprestasi bukan saja dipengaruhi oleh pemahamannya tentang kualitas tujuan yang akan dicapai, tetapi juga oleh bagaimana individu tersebut memandang penyebab keberhasilan. Apabila seseorang menganggap kemampuan pribadi dan usaha sebagai penyebab keberhasilan, seseorang cenderung mencoba melakukan kegiatan untuk berprestasi. Persepsi ini bisa juga terjadi sebaliknya, apabila seseorang menganggap faktor keberuntungan atau kesulitan pada tugas sebagai penyebab keberhasilan atau kegagalan, orang tersebut cenderung tidak termotivasi untuk melakukan kegiatan berprestasi. Faktor ini dikaitkan dengan konsep locus of control yaitu seseorang dapat bersifat “internal” yaitu menganggap faktor dari diri sendiri menentukan keberhasilan atau “eksternal” yang mengangap keberhasilan ditentukan oleh fatkor di luar dirinya sendiri (Djiwandono, 2009: 334).

d. Model ARCS

Teori motivasi model ARCS didasarkan pada teori Keller yang mengemukakan prinsip-prinsip motivasi yang didasarkan pada teori expectancy-value. Motivasi menurut teori ini dilihat dari usaha siswa, merupakan fungsi dari harapan dan penilaian. Siswa akan terdorong untuk berusaha melakukan sesuatu apabila mempunyai harapan untuk berhasil dalam usahanya, hal tersebut merupakan faktor pertama. Siapapun tidak ingin menjadi kecewa karena gagal, oleh karena itu apabila siswa mempunyai persepsi bahwa apa yang akan dilakukan sangat sulit dan di luar jangkauan kemampuannya, maka dia akan kehilangan minat untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa harapan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi.

Faktor kedua adalah persepsi siswa mengenai “nilai” dan “manfaat” yang diperoleh dari tercapainya suatu tujuan. Siswa tidak akan mau bersudah payah mengerjakan tugas yang tidak menarik dan tidak diketahui manfaatnya. Banyak mata pelajaran atau tugas yang menarik perhatian siswa, tetapi ada juga pengetahuan lain yang harus dipelajari siswa, namun bagi siswa hal tersebut kurang menarik. Hal inilah yang menyebabkan siswa kurang termotivasi untuk mempelajari pengetahuan tersebut.

Berdasarkan teori expectancy value, diidentifikasikan empat indikator pembelajaran yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, yang disingkat dengan ARCS (Suciati, 2005: 14), yaitu:

1)  Attention atau Perhatian

Perhatian merupakan faktor indikator motivasi siswa. Sebaik apapun persiapan mengajar guru, bila siswa tidak memberi perhatian, proses belajar tidak akan berjalan. Siswa yang memasuki ruangan kelas menjadi tidak mempunyai perhatian terhadap apa yang akan diajarkan guru.

2)    Relevance atau Berhubungan

Relevance dapat diartikan juga sebagai kesesuaian dan kegunaan. Berkenaan dengan aspek ini, guru dituntut untuk mengkaitkan pembelajaran dengan kebutuhan, minat dan motivasi belajar siswa. Pertama, guru perlu menjelaskan kepada siswa tujuan, kegunaan dan strategi untuk dapat mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Kedua mengkaitkan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan dan motif belajar siswa. Ketiga menyajikan materi menggunakan cara yang dapat dipahami siswa dan mengusahakan apa yang telah diketahui oleh siswa, misalnya dengan memberi konsep yang dibahas dari pengalaman sendiri.

4)    Confidence atau Rasa Percaya Diri

Berkenaan dengan aspek percaya diri, guru dituntut untuk membantu siswa mengembangkan harapan keberhasilan dalam pembelajaran. Strategi ini dapat dilakukan dengan cara:                    (1) menjelaskan kepada siswa persyaratan atau kriteria hasil belajar; (2) memberi tantangan dan kesempatan untuk berhasil, dan (3) membuat hubungan antara keberhasilan dengan usaha dan kemampuan.

5)    Satisfaction atau Kepuasan

Guru dituntut untuk mengusahakan penguatan motivasi instrinsik dan ekstrinsik pada siswa. Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan siswa diantaranya: (1) menumbuhkan motivasi instrinsik siswa untuk belajar; (2) menumbuhkan motivasi ekstrinsik; dan (3) membeikan balikan terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan kriteria yang telah disepakati di kelas..

Motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Terdapat beberapa peranan penting dalam motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar; (b) menjelaskan tujuan belajar yang hendak dicapai; (c) menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar; serta (d) menentukan ketekunan belajar (Uno, 2008: 27).

DAFTAR PUSTAKA

(Hubungi FB: akan dikirim via email)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: