Oleh: Supri Hartanto | 8 Agustus 2011

UJIAN POLA PERILAKU ALAM DAN LINGKUNGAN

1. Perubahan lingkungan dan implikasinya pada aktivitas sosial – ekonomi dalam masyarakat Adannya perubahan lingkungan dapat membawa perubahan juga pada aktivitas sosial ekonomi di masyarakat. Perubahan lingkungan yang terjadi secara lamban kemungkinan tidak berdampak luas kepada masyarakat (misalnya cuaca), namun apabila perubahan lingkungan terjadi secara mendadak dan berskala besar, maka akan menimbulkan pengaruh bagi aktivitas sosial ekonomi dalam masyarakat. Contoh kongkrit perubahan lingkungan seperti perisiwa Tsunami di Aceh, gempa di Bantul, maupun kasus lumpur Lapindo. Kondisi alam yang merubah lingkungan (banjir, gempa, tanah longsor dll) menyebabkan aktivitas ekonomi dalam masyarakat tidak berjalan. Hal ini dikarenakan perekonomian terabaikan karena masyarakat memilih untuk mengurusi permasalahan lingkungan. Kasus-kasus besar seperti Tsunami dan Gempa di Bantul dapat melumpuhkan semua sektor ekonomi. Masyarakat tidak beraktivitas, transaksi ekonomi hampir tidak terjadi, infrastruktur, sarana dan prasaranyapun tidak ada. Aktivitas sosial kemasyarakatan juga tidak banyak dilakukan seperti biasanya, karena masyarakat lebih banyak mengungsi, atau memikirkan permasalahan keluarganya daripada berpikir tentang kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Perubahan lingkungan yang berskala besar, menjadikan masyarakat tidak dapat beraktivitas secara ekonomi maupun sosial dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, untuk memulihkan kondisi seperti biasanya memerlukan biaya dan waktu yang tidak dapat diprediksikan. Perubahan lingkungan juga dapat mengubah struktur masyarakat dan ekologi masyarakat di suatu tempat. Kasus Tsunami yang terjadi di Aceh mampir merusak berbagai bangunan di berbagai desa sehingga banyak masyarakat yang meninggal. Komunitas masyarakatpun menjadi berubah. Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia menyebabkan adanya gangguan terhadap keseimbangan karena sebagian dari komponen lingkungan menjadi berkurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena campur tangan manusia dan dapat pula karena faktor alami. Dampak dari perubahannya belum tentu sama, namun akhirnya manusia juga yang mesti memikul serta mengatasinya. Perubahan lingkungan dapat terjadi karena campur tangan manusia. Perubahan ini terjadi karena penebangan hutan, pembangunan pemukiman, dan penerapan intensifikasi pertanian. Penebangan hutan yang liar mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang. Selain itu, penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat lain adalah munculnya harimau, babi hutan, dan ular di tengah pemukiman manusia karena semakin sempitnya habitat hewan-hewan tersebut. Pembangungan pemukiman pada daerah-daerah yang subur merupakan salah satu tuntutan kebutuhan akan pagan. Semakin padat populasi manusia, lahan yang semula produktif menjadi tidak atau kurang produktif. Pembangunan jalan kampung dan desa dengan cara betonisasi mengakibatkan air sulit meresap ke dalam tanah. Sebagai akibatnya, bila hujan lebat memudahkan terjadinya banjir. Selain itu, tumbuhan di sekitamya menjadi kekurangan air sehingga tumbuhan tidak efektif melakukan fotosintesis. Akibat lebih lanjut, kita merasakan pangs akibat tumbuhan tidak secara optimal memanfaatkan CO2, peran tumbuhan sebagai produsen terhambat. Perubahan lingkungan juga disebabkan karena faktor alam. Perubahan lingkungan secara alami disebabkan oleh bencana alam. Bencana alam seperti kebakaran hutan di musim kemarau menyebabkan kerusakan dan matinya organisme di hutan tersebut. Selain itu, terjadinya letusan gunung menjadikan kawasan di sekitarnya rusak. Sumber: Hari Poerwanto. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropogi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hans. J. Daeng. 2008. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar http://beritamanado.com/2009/06/06/pariwisata-dan-perubahan-lingkungan/ 2. Pengaruh keadaan lingkungan hidup terhadap berbagai aspek perkembangan kebudayaan Kebudayaan dan lingkungan mempunyai keterkaitan yang erat. Kebudayaan muncul karena adanya adaptasi dengan lingkungan sekitar. Unsur-unsur kebudayaan yang diambil dari kondisi lingkungan, menghasilkan kebudayaan yang spesifik sehingga berpengaruh pada berbagai kebudayaan dan seni (seni suara, seni tari, seni arsitektur, bentuk bangunan dan sebagainya). Masyarakat yang hidup dalam lingkungan hidup yang dingin pasti membangun rumahnya sesuai dengan kondisi lingkungan dan memanafaat apa yang ada di lingkungannya untuk membangun rumah yang mempunyai arsitektur yang khas. Tari-tarian, lagu, alat musik dan sebagainya, merupakan wujud dari penyelarasan kebudayaan dengan lingkungan. Bagi daerah-daerah yang banyak menghasilkan bambu, maka akan timbul musik kulintang, bagi daerah yang banyak menghasilkan tembaga maka di situ akan timbul kebudayaan ukir tembaga, alat musik dan sebagainya. Kebudayaan yang diciptakan dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar masyarakat. Kebudayaan sebagai ciptaan atau warisan hidup bermasyarakat adalah hasil dari daya cipta atau kreasi para pendukungnya dalam rangka berinteraksi dengan lingkungan, yaitu untuk memenuhi keperluan biologi dan kelangsungan hidupnya sehingga ia mampu tetap survive. Perubahan suatu lingkungan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan, dan perubahaan kebudayaan dapat pula terjadi karena mekanisme lain seperti munculnya penemuan baru atau invention, difusi dan akulturasi. Dengan kebudayaan yang dimilikinya, suatu masyarakat akan mengatur perilaku mereka dalam hubungannya dengan lingkungan, demikian pula dalam interaksi sosial maupun dengan dunia supernatural mereka. Manusia kemudian mempergunakan segala sumber yang ada di sekitarnya secara teratur dan tersusun, menciptakan peralatan dan teknik-teknik untuk membantu menghasilkan berbagai bahan berguna bagi keperuluan hidupnya. Berdasarkan sifat manusia untuk memanfaatkan alam maka timbul gagasan (ide), peralatan, dan kelembagaan dalam masyarakat yang pada awalnya dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh karena itu dasar dan perkembangan suatu kebudayaan terkait dengan identitas alamnya. Faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan dipengaruhi juga oleh pelaku kebudayaan sendiri. Manusia dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Sekalipun makhluk manusia akan mati, tetapi kebudayaan yang dimilikinya akan diwariskan pada keturunannya, demikian seterusnya. Pewarisan kebudayaan makhluk manusia, tidak selalu terjadi secara vertikal atau kepada anak cucu mereka melainkan dapat pula secara horizontal yaitu manusia yang satu dapat belajar kebudayaan dari manusia lainnya. Pewarisan kebudayaan tersebut tentu saja harus juga didukung oleh lingkungan. Terdapat banyak sekali kebudayaan yang mati karena adanya modernisasi lingkungan maupun karena sudah punahnya berbagai bahan yang dapat mendukung kebudayaan. Dalam kaitannya dengan kebudayaan, suatu perubahan ekologis juga akan dapat sekaligus membuat manusia menyesuaikan bebagai gagasan mereka, misalnya tentang kosmologi, suksesi politik, kesenian dan sebagainya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa teknologi, produksi subsistem dan organisasi sosial dalam rangka menghasilkan bahan pangan, juga dapat disebarkanluaskan dan dikendalikan oleh sistem sosial-budaya yang dimiikinya. J.H. Steward, lebih menekankan hubungan antara kebudayaan dengan alam lingkungan, dengan memberikan pula gambaran akan adanya perbedaan kebudayaan suatu kelompok. Terdapat keanekaragaman kebudayaan tersebut dinilai lebih sebagai akibat perbedaan lingkungan sekitar mereka. Tetapi perbedan alam sekitar bukan merupakan satu-satunya yang menyebabkan timbulnya perbedaan kebudayaan. Kebudayaan berkembang secara akumulatif, dan semakin lama bertambah banyak serta kompleks. Untuk meneruskan dari generasi ke generasi, diperlukan suatu sitem komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang dimiliki binatang, ialah bahasa, baik lisan, tetulis maupun dalam bentuk bahasa isyarat. Agar suatu kebudayaan dapat merespon berbagai masalah kelangsungan hidup makhluk manusia dan tetap dipelajari oleh generasi berikutnya, maka suatu kebudayaan harus mampu mengembangkan berbagai sarana yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pokok para individu. Pustaka: Hari Poerwanto. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropogi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hans. J. Daeng. 2008. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 3. Lingkungan dan pembangunan berkelanjutan (sustainable) di pedesaan di Indonesia Dalam perencanaan pembangunan perlu diadakannya pembangunan yang berkelanjutan yang tidak merugikan lingkungan. Adanya keseimbangan antara pembangunan dan lingkungan maka menjadikan lingkungan tidak rusak dan pada akhirnya dapat membayakan masyarakat itu sendiri. Proses perusakan alam yang berdalih untuk pembangunan harus dipikirkan juga proses rehabilitasi berbagai tempat yang dapat mengganti fungsi lingkungan yang telah didirikan bangunan. Konsep pembangunan perlu ditata dari awal, sehingga konsep pembangunan tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan hukum tentang lingkungan serta tidak mengganggu lingkungan. Kawasan-kawasan yang memang digunakan untuk mempertahankan ekosistem alam, diupayakan jangan sampai dirusak atau dialihkan untuk pembangunan. Hilangnya komunitas lingkungan akan menjadikan terjadinya bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, maupun yang lainnya. Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan terhadap sumber daya alam yang ada dengan memperhatikan lingkungan secara keseluruhan, sebagai komponen yang penting pada sistem penyangga kehidupan untuk penyerasi dan penyimbang lingkungan global, sehingga keterkaitan dunia internasional menjadi hal penting, dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional. Melalui konsep pembangunan berkelanjutan, diupayakan agar tercapai keselarasan antara pembangunan ekonomi dengan aspek lingkungan, sementara itu antara lingkungan dengan kebudayaan terdapat saling keterkaitan. Konsepsi pembangunan berkelanjutan yang dicetuskan oleh Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan, menunjukkan semakin pentingnya pendekatan inter dan multidisipliner untuk mengatasi pencemaran lingkungan dan kemerosotan sumberdaya alam sebagai akibat pembangunan. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memerlukan sumberdaya alam, yang berupa tanah, air dan udara dan sumberdaya alam yang lain yang termasuk ke dalam sumberdaya alam yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Namun demikian harus disadari bahwa sumberdaya alam yang kita perlukan mempunyai keterbatasan di dalam banyak hal, yaitu keterbatasan tentang ketersediaan menurut kuantitas dan kualitasnya. Sumberdaya alam tertentu juga mempunyai keterbatasan menurut ruang dan waktu. Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan sumberdaya alam yang baik dan bijaksana. Antara lingkungan dan manusia saling mempunyai kaitan yang erat. Ada kalanya manusia sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya, sehingga aktivitasnya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan di sekitarnya. Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri. Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam; namun eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan. Banyak faktor yang menyebabkan kemerosotan kualitas lingkungan serta kerusakan lingkungan yang dapat diidentifikasi dari pengamatan di lapangan, Bagi Indonesia mengingat bahwa kontribusi yang dapat diandalkan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber devisa serta modal pembangunan adalah dari sumberdaya alam, dapat dikatakan bahwa sumberdaya alam mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik pada masa lalu, saat ini maupun masa mendatang sehingga, dalam penerapannya harus memperhatikan apa yang telah disepakati dunia internasional. Namun demikian, selain sumberdaya alam mendatangkan kontribusi besar bagi pembangunan, di lain pihak keberlanjutan atas ketersediaannya sering diabaikan dan begitu juga aturan yang mestinya ditaati sebagai landasan melaksanakan pengelolaan suatu usaha dan atau kegiatan mendukung pembangunan dari sektor ekonomi kurang diperhatikan, sehingga ada kecenderungan terjadi penurunan daya dukung lingkungan dan menipisnya ketersediaan sumberdaya alam yang ada serta penurunan kualitas lingkungan hidup. Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak dilakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan adanya krisis pangan, krisis air, krisis energi dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh jenis sumberdaya alam dan komponen lingkungan hidup di Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Konsep ini mengandung dua unsur : • Yang pertama adalah kebutuhan, khususnya kebutuhan dasar bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung, yang amat perlu mendapatkan prioritas tinggi dari semua negara. • Yang kedua adalah keterbatasan. Penguasaan teknologi dan organisasi sosial harus memperhatikan keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada saat ini dan di masa depan. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan telah menuntut dikembangkannya berbagai perangkat kebijaksanaan dan program serta kegiatan yang didukung oleh sistem pendukung pengelolaan lingkungan lainnya. Sistem tersebut mencakup kemantapan kelembagaan,sumberdaya manusia dan kemitraan lingkungan, disamping perangkat hukum dan perundangan,informasi serta pendanaan. Sifat keterkaitan (interdependensi) dan keseluruhan (holistik) dari esensi lingkungan telah membawa konsekuensi bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sistem pendukungnya tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi terintegrasikan dan menjadi roh dan bersenyawa dengan seluruh pelaksanaan pembangunan sektor dan daerah. Dapat dikatakan bahwa konsekuensi pelaksanaan UU No. 32 Tahun 2004 dengan PP No. 25 Tahun 2000, Pengelolaan Lingkungan Hidup titik tekannya ada di Daerah, maka kebijakan nasional dalam bidang lingkungan hidup secara eksplisit PROPENAS merumuskan program yang disebut sebagai pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Program itu mencakup : 1. Program Pengembangaan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi yang lengkap mengenai potensi dan produktivitas sumberdaya alam dan lingkungan hidup melalui inventarisasi dan evaluasi, serta penguatan sistem informasi. Sasaran yang ingin dicapai melalui program ini adalah tersedia dan teraksesnya informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup, baik berupa infrastruktur data spasial, nilai dan neraca sumberdaya alam dan lingkungan hidup oleh masyarakat luas di setiap daerah. 2. Program Peningkatan Efektifitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam. Tujuan dari program ini adalah menjaga keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup hutan, laut, air udara dan mineral. Sasaran yang akan dicapai dalam program ini adalah termanfaatkannya, sumber daya alam untuk mendukung kebutuhan bahan baku industri secara efisien dan berkelanjutan. Sasaran lain di program adalah terlindunginya kawasan-kawasan konservasi dari kerusakan akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terkendali dan eksploitatif 3. Program Pencegahan dan Pengendalian Kerusakan dan Pencemaran Lingkungan Hidup. Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan dan pemulihan kualitas lingkungan yang rusak akibat pemanfaatan sumberdaya alam yang berlebihan, serta kegiatan industri dan transportasi. Sasaran program ini adalah tercapainya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat adalah tercapainya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat sesuai dengan baku mutu lingkungan yang ditetapkan. 4. Program Penataan Kelembagaan dan Penegakan Hukum, Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan untuk mengembangkan kelembagaan, menata sistem hukum, perangkat hukum dan kebijakan, serta menegakkan hukum untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup yang efektif dan berkeadilan. Sasaran program ini adalah tersedianya kelembagaan bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup yang kuat dengan didukung oleh perangkat hukum dan perundangan serta terlaksannya upaya penegakan hukum secara adil dan konsisten. 5. Progam Peningkatan Peranan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya alam dan Pelestarian fungsi Lingkungan Hidup. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sasaran program ini adalah tersediaanya sarana bagi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup sejak proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan. Pustaka: Baiquni, M dan Susilawardani. 2002. Pembangunan yang tidak Berkelanjutan, Refleksi Kritis Pembangunan Indonesia. Yogyakarta: Transmedia Global Wacana. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1997. Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Hari Poerwanto. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropogi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hans. J. Daeng. 2008. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 4 Ekologi dan pengembangan program pariwisata di perkotaan pedesaan di Indonesia Ekologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan makhluk hidup khususnya manusia dalam hubungannya dengan kondisi lingkungan hidupnya dimana manusia itu berada dan memanfaatkan lingkunngan itu memenuhi keperluan hidupnya. Manusia harus merawatnya dengan tindakan-tindakan yang di pertimbangkan untuk mendapatkan keseimbangan dalam kelangsungan lebih lajut hidupnya. Dalam mengembangkan pariwisata, terdapat berbagai pertimbangan yang perlu diperhitungkan. Pariwisata-pariwisata alam yang dikembangkan di Indonesia tentu saja akan menjadikan lingkungan semakin terata rapi dan terkelola dengan baik. Namun pengembangan pariwisata yang harus mengorbankan faktor lingkungan dalam pembangunannya akan menjadikan bencana bagi masyarakat, karena dapat juga lingkungan menjadi lebih ganas karena dapat menimbulkan bencana. Pengelolaan lingkungan hidup manusia tidak lepas dari ekologi manusia, yaitu hubungan timbal balik antara prilaku manusia dengan lingkungan hidupnya. Perilaku manusia terikat dengan tingkat nilai-nilai budaya yang melatar belakanginya dalam mengelola. Di Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya tercatat adanya tipifikasi lingkungan ekosistem gunung, ekosistem sungai, ekosistem urban, ekosistem bukit karst, ekosistem pantai. Ekosistem ini spesifik dan terpadu, fokus kepada alam dan budaya didalamnya, diapit secara cross section dari utara ke selatan : gunung merapi sampai Laut Hindia, dari barat ke timur : bukit menoreh sampai dengan bukit-bukkit kurst, luasnya kira-kira 3.150 km2, dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa, kepadatan penduduk 1 km2 : 111,1 rata-rata dialiri S. Opak, S. Oya, S. Kuning, S. Gajahwong,S. Winongo, S. Bedog,S. Progo, terdapat 4 kabupaten dan kota. Masing-masing wilayah ini punya karakter kewilayahan sendiri-sendiri; bagi pariwisata memiliki daya tarik dari segi lokasi, sejarah, budaya, kesejahteraan masyarakat, dan keamanan yang mampu meninggalkan kesan positip bagi wisatawan. Masyarakat sudah mengenal hubungan-hubungan multikultural yang belum sepenuhnya dihubungkan untuk pariwisata berbasis budaya tradisional yang masih kuat, meski dilindungi oleh derap globalitas moderisme. Letak pariwisata yang cocok adalah pengembangan pariwisata berbasis alam (natural environment) dan berbasis budaya (built environment) dengan pendekatan ekologi budaya: 1. Budaya nilai-nilai direfleksikan dalam lingkungan pariwisata yang berkarakter eksistem setempat 2. Proritas budaya sebagai regulator – monitor dan evaluasi bagi bobot progress pengembangan pariwisata berbasis budaya (budaya di mengerti sebagai norma-norma keyakinan praktek cultural dan simbol-simbol) Tapi sebaiknya diperlukan manajemen untuk : 1. Pengembangkan design budaya yang standart, dinamis tervitalisasi 2. Pengembangan program design pariwisata budaya supaya dinamis sesuai segmen wisatawan dimaksud dengan perda dan pembentukan lembaga budaya lokal untuk memobilisir masyarakat 3. Pengembangan hubungan multiteral (host dan guest) yang dinamis yang saling menguntungkan (proporsional) 4. Pengembangan tool (alat) manajemen : manajemen global pariwisata untuk K.I.S manajemen-manajemen diatas. Perencanaan pengembangan suatu kawasan wisata memerlukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti: Marketing Research, Situational Analysis, Marketing Target, Tourism Promotion, pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam promosi dan Marketing. Lebih lanjut dijelaskan, untuk menjadikan suatu kawasan menjadi objek wisata yang berhasil haruslah memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut. (1) Faktor kelangkaan yakni: sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun kelangkaan ciptaan. (2) Faktor kealamiahan (Naturalism) yakni: sifat dari objek/atraksi wisata yang belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Atraksi wisata bisa berwujud suatu warisan budaya, atraksi alam yang belum mengalami banyak perubahan oleh perilaku manusia. (3) Faktor Keunikan (Uniqueness) yakni sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya. (4) Faktor pemberdayaan masyarakat (Community empowerment). Faktor ini menghimbau agar masyarakat lokal benar-benar dapat diberdayakan dengan keberadaan suatu objek wisata di daerahnya, sehingga masyarakat akan memiliki rasa memiliki agar menimbulkan keramahtamahan bagi wisatawan yang berkunjung. (5) Faktor Optimalisasi lahan (Area optimalsation) maksudnya adalah lahan yang dipakai sebagai kawasan wisata alam digunakan berdasarkan pertimbangan optimalisasi sesuai dengan mekanisme pasar. Tanpa melupakan pertimbangan konservasi, preservasi, dan proteksi. (6) Faktor Pemerataan harus diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat terbesar untuk kelompok mnasyarakat yang paling tidak beruntung serta memberikan kesempatan yang sama kepada individu sehingga tercipta ketertiban masyarakat tuan rumah menjadi utuh dan padu dengan pengelola kawasan wisata. Pusaka: Ariyanto, 2005. Ekonomi Pariwisata Jakarta: Pada http://www.geocities.com/ariyanto eks79/home.htm Spillane, James.1985. Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan prospeknya.Yogyakarta: Kanisius. Syamsu, Yoharman. 2001. “Penerapan Etika Perencanaan pada kawasan wisata, studi kasus di kawasan Agrowisata Salak Pondoh, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jakarta: LP3M STP Tri Sakti, Jurnal Ilmiah, Vol 5. No. 3 Maret 2001. Hari Poerwanto. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropogi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hans. J. Daeng. 2008. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar http://www.scribd.com/doc/21677433/Ekologi-Budaya-Untuk-Pariwisata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: