Oleh: Supri Hartanto | 23 Juli 2011

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT (CULTULTURAL ENVIRONMENT)

Review:  Buku Prof. Dr. Djoko Suryo, MA
Master of Management Universitas Gadjah Mada (2009)

INTERAKSI SOSIAL BUDAYA DAN KERJA SUATU DALAM KAJIAN SOSIAL
Budaya lingkungan berpengaruh pada etos kerja dan bisnis di suatu kawasan. Budaya lingkungan yang menganut berbagai nilai-nilai yang tergali dari masyarakat menjadikan progresivitas bersinergi dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Interaksi antara sosial budaya dan bisnis dalam masyarakat telah lama dianalisis oleh berbagai tokoh. Salah satunya adalah Max Weber dalam bukunya tentang The Protestant ethnics and the spirit of capitalism, yang mencoba menjelaskan bahwa semangat kapitalisme yang lahir di masyarakat barat (Eroba Barat) pada abad ke 19 dipengaruhi oleh ajaran etika (Etos Kerja), Kristen (Calvinist). Ajaran ini menganjurkan agar para pengikutnya dalam menjalankan ajaran keagamaannya perlu lebih melakukan asketisme keduniawaan (worldly asceticism) yaitu mengamalkan ibabah keagaman dengan kerja keras, hemat, dan boleh mengejar keuntungan demi kehidupan dunia.
Robert Bellah dalam bukunya Tokugawa Religion, The Cultural Roots of the Modern Japan (1957) juga berpendapat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan keberhasilan modernisasi Jepang adalah adanya Etika Bushido (semangat berani mati) yang ada dalam diri masyarakat Jepang untuk melakukan kerja keras demi mencapai sukses, yang berasal dari akar budaya kaum samurai yang diadopsi oleh kaum bisnismen Jepang pada masa modern.
Clifford Geertz, juga mencoba mengkaji tentang faktor-faktor yang menyebabkan kelahiran kaum wirastastawan di Indoensia, dengan merujuk pada kelahiran kaum saudagar atau pedagang Islam (santri) yang memiliki semagnat kerja bisnis yang terkemukan. Selain dari kalangan santri, semangat kerja bisnis ada yang lahir dari kalangan bekas kaum bangsawan (The princes and the paddlers, and the history of town).
Berbagai kajian yang telah diungkapkan oleh para peneliti tersebut memberikan gambaran bahwa terdapat interaksi antara budaya lingkungan dan etos kerja yang didorong oleh kondisi budaya di suatu daerah. Etos kerja dari masyarakat dipengaruhi oleh komunitas budaya yang sebenarnya secara terintegrasi mempengaruhi semua elemen dalam kebudayaan tersebut. Budaya tersebut melekat dalam etos kerja yang terbangun karena kebiasaan lingkungan dan proses budaya dalam masyarakat yang bersangkutan.

KEBUDAYAAN (CULTURE) DAN NILAI (VALUE) DALAM KONSEP TEORITIS
Goodenough menyatakan bahwa kebudayaan adalah suatu sistem pengetahuan dan gagasan (cultural knowledge) yang secara sadar atau tidak menjadi milik masyarakat (society). Pengetahuan dan gagasan itu diterimanya secara akumulatif, dan dalam kehidupan sehari-hari berfungsi sebagai pengarah dan pemandu bagi sikap dan perilaku masyarakat pendukungnya.
Kebudayaan juga dapat dipahami sebagai olah pikir (parterned way of thingking), olah rasa (felling), dan olah berbuat (reacting) dan olah berkepercayaan (believing) yang diterima atau disebarkan teruama dengan simbol-simbol yang bermakna bagi pendukungnnya. Kebudayaan juga didefinisikan sebagai keseluruhan cara hidup mansuia dalam masyarakat (total way of live of a people). Kebudayaan juga merupakan gudang pembelajaran bagi manusia (a store house of pooled learning).
Definisi nilai merupakan esensi kebudayaan berupa gagasan atau prefernsi konseptual tentang apa yang dilasifikan sebagai yang bermakna, penting, baik dan berguna bagi kehidupan manusia. Nilai juga dapat dibedakan atas nilai yang dibutuhkan (desired) dan yang diinginkan (desirable).
Nilai budaya tersebut kemudian berinteraksi dnegan sikap dan perilaku manusia yang diimplementasikan dalam kehidupannya. Lima orientasi yang dapat terbangun adalah orientasi terhadap hubungan antara manusia dan hidup; orientasi terhadap hubungan antara manusia dan lingkungan alam; orientasi terhadap waktu; orientasi terhadap kerja; orientasi terhadap hubungan antar sesama.
Perubahan sosial budaya, dapat dipengaruhi oleh banyak perubahan antara lain perubahan demografis, inovasi teknologis, inovasi sosial pergeseran nilai kultural, perubahan ekologi, pergeseran informasi dan difusi kebudayaan.

BUDAYA BISNIS DALAM LINGKUP BUDAYA LINGKUNGAN
Budaya bisnis merupakan fenomena yang mendorong perkembangaan dan peluasan komersialisme. Budaya bisnis merupakan hasil pencampuran antara komersialisme dan unsur-unsur budaya (etika, estetika, nilai dan spiritual) yang diciptakan oleh pengusaha atau pedagang dalam aktivitas bisnisnya. Budaya bisnis pada hekekatnya telah ada semenjak manusia memiliki kegiatan perdagnagna dan peradaban.
Budaya bisnis pada dasarnya dapat dibedakan dengan empat segi, antara lain (1) budaya komoditi sebagai basis budaya bisnis; (2) sistem administrasi/sistem bisnis; (3) budaya pemasaran, merupakan inti budaya bisnis; dan (4) Ideologi bisnis dalam perdagangan merupakan jiwa budaya bisnis yang menjadi pegangan perusahaan.
Dalam budaya bisnis terdapat prinsip moral yang secara umum menjadi pegangan pergaulan dalam kehidupan bisnis antara lain kejujuran, kesetiaan, kebebasan, kebajikan, kesonpanan, ketekunan, hemat.

BUDAYA BISNIS DALAM MASYARAKAT ASIA
Tradisi agama dan kemasyarakatan yang berakar dari ajaran Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme dan Islam dalam masyarakt di Asia, Asia Tenggara dan Indonesia banyak mendasari perilau dan kepercayaan yang mendalam pada jiwa mereka sehingga mempengaruhi budaya kewirasusahaan.
Lima faktor yang mempengaruhi perilaku dalam kehidupan bisnis di Indonesia antara lain kebudayaan, sejarah bangsa dan negara Indonesia, pola otoritas dan kekuasaan, masyarakat Indonesia dalam perspektif dunia industri, Kebhinekaan/pluralitas penduduk Indonesia
Beberapa segi persoalan yang mempengaruhi perilaku bisnis di Indonesia yang perlu diperhatikan antara lain segi kebhinekaan, pandangan hidup orang Indonesia, rasa dan perasaan, hubungan sosial yang didasarkan kepada prinsip kepatuhan dan pertemanan kepercayaan dan saling menguntungkan, menghormati sesama, wanita dalam pemerintahan dan bisnis, Islam, etnisitas, pengaruh budaya jawa, etika tradisi dan sikap hidup yang berpangkal pada prinsip (gotong royong, unggah ungguh, semangat dawuh, alon-alon asal kelakon, tuna satak bathi sanak, gemi nastiti ngati-ati), konflik dengan praktek bisnis modern, kedamaian dan harmoni, orientasi diri dan pribadi, sikap diam, pertemanan, muka dan kehilangan muka, humor, nasib dan kesungguhan, tempat kerja, paternalisme dan pembagian kerja, pengaruh desa, perubahan sikap dan perubahan sosial di Indonesia, perubahan sosial

AKHIR DARI ANALISIS INTERAKSI BUDAYA LINGKUNGAN DAN BISNIS
Budaya lingkungan yang telah mengakar dalam diri masyarakat di suatu daerah yang berhubungan nilai-nilai budaya lokal, berpengaruh pada etos kerja serta bisnis. Hubungan antara budaya lingkungan tersebut dapat mendorong terciptanya budaya kerja secara nasional. Perbedaan antara budaya kerja satu daerah dengan daerah lain, dapat dianalisis dari bagaimana budaya lingkungan dari suatu kawasan. Kondisi tersebut menjadikan pemahaman bahwa perkembangan suatu negara yang pesat kadangkala dipengaruhi oleh budaya lingkungan. Oleh karena itu apabila dalam suatu kawasan negara mempunyai perkembangan yang sangat pesat hal tersebut dapat dimaklumi karena masyarakatnya mempunyai etos kerja dan bisnis yang kuat karena dipengaruhi oleh budaya lingkungannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: