Oleh: Supri Hartanto | 9 November 2010

RESUME: HUMANISASI PENDIDIK

(Prof. Darmiyati Zuchdi, Ed.D)

I. KONSEPSI MORALITAS

Hill, mengidentifikasikan 4 konsepsi moralitas:

1.  Kepatuhan pada Hukum Moral

Yang terdiri dari 3 hal yaitu:

  1. Bidang moralitas berkisar pada tindakan manusia secara sukarela
  2. Tindakan tersebut selaras dengan keyakinan seseorang tenatang kewajiban yang diemban
  3. Kewajiban seseorang (yang benar dan baik) adalah yang tidak melanggar hukum, karena diatur oleh alam kehidupan manusia dalam masyarakat.

2.  Konformitas pada aturan Sosial

Cara manusia bertindak terhadap aturan-aturan sosial yang dipandang serius.

The morality of our time: sistem aturan untuk bertindak yang mengatur perilaku bersifat lokal.

3.  Otonomi Rasional dalam Hubungan Antarpribadi

Istilah moralitas merujuk pada bentuk wacana rasional tertentu dalam kehidupan manusia, digunakan untuk menentukan yang baik dan yang harus dikerjakan.

4.  Otonomi Eksistensial dalam Pilihan Seseorang

Mempertimbangkan persoalan pribadi dan menghargai keberadaan individu.

ALTERNATIF PENDIDIKAN NILAI

Pendidikan moral dapat disampaikan dalam bentuk metode langsung dan tidak langsung.

[]   Metode langsung: dimulai dengan menentukan perilaku yang dinilai baik, sebagai upaya indoktrinasi ajaran.

(Diskusi, ilustrasi, menghafal mengucapkan)

[]   Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku yang diinginkan tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku yang baik dapat dipraktikan.

Indoktrinasi menghasilkan 2 kemungkinan:

1.  Nilai-nilai indoktrinasi diserap, bahkan dihafal, tetapi tidak terinternalisasi maupun diamalkan.

2.  Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari namun karena pengawasan pihak penguasa, bukan atas kesadaran diari sendiri.

KEPUTUSAN MORAL

[]   Kondisi saat subjek dapat menemukan alasan-alasan yang mendasari keputusa moral dengan mengembangkan kemampuan mengontrol tindakan, yaitu dengan mengidentifikasi alasan yang baik yang harus diterima dan alasan tidak baik yang harus ditolak atau diubah.

PEMIKIRAN MORAL

[]   Cara berpikir dengan mengembangkan dilema moral yaitu menuntut kemampuan subjek didik untuk mengambil keputusan dalam kondisi yang sangat dilematis.

TAHAP PEMIKIRAN MORAL

[]   Dari tingkat rendah yang berorientasi pada kepatuhan pada otoritas karena takut akan hukuman fisik ke tingkat orientasi pada pemenuhan keinginan pribadi, loyalitas kelompok, pelaksanaan tugas dalam masyarakat sesuai dengan peraturan, sampai mendukung kebenaran atau nilai-nilai hakiki yaitu kejujuran, keadilan, penghargaan ham dan kepedulian sosial.

TINDAKAN MORAL

[]   Hanya mungkin dicapai lewat kecerdasan emosional, spiritual dan pembiasaan.

ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF

[]   Komponen kognitif memungkinkan seseorang dapat menentukan pilihan moral secara tepat

[]   Komponen afektif menajamkan kepekaan hati nurani yang memberi dorongan untuk melakukan tindakan bermoral.

 

II. PENDEKATAN KLASIFIKASI NILAI

Pendekatan klasifikasi nilai digunakan untuk mengajarkan bentuk inkuiri nilai dengan proses

  1. Menghargai kepercayaan dan perilaku pribadi
  2. Memilih kepercayaan dan perilaku pribadi
  3. Bertindak sesuai dengan kepercayaan pribadi.

[]  Segi Positif

Seseorang menyadari kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain dan apa yang harus dianggap bernilai.

[]   Segi Negatif

  1. Tidak mampu menolong murid mengatasi pertentangan nilai.
  2. Klasifikasi nilai berimplikasi pada relativisme nilai, menganggap semua nilai sama.
  3. Guru menyedarhanakan kerumitan pendidikan moral, dan semau sendiri mengajarkan cara mengatasi pertentangan nilai

TEORI KOHLBERG

[] Cognitive-developmental theory of moralization

Kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara hirarkhi dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami.

[]   Kesalahan pemikiran ahli psikologi

  1. Moral merupakan proses psikologi dan sosial
  2. Moralitas hasil pendidikan perasaan pada usia dini dan sedikit hubungan dengan cara berpikir rasional.
  3. Pemahaman moral harus dipelajari proses sosialisasi degan mematuhi aturan dan norma masyarakat

KONSEP KEPUTUSAN MORAL

Menurut Kohlberg:

[]   Moralitas bukan nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan sosial.

[]   Karena apabila seseorang menghadapi nilai-nilai yang bertentangan tidak mudah untuk memilih yang mana lingkungan sosial yang harus dianut

TAHAP PERKEMBANGAN MORAL

[]   Cara konsisten dalam bernalar untuk mengambil keputusan modal ketika menghadapi kondisi yang dilematis.

TAHAPAN HIERARKIS PERKEMBANGAN MORAL

–    Seseorang tidak mencapai tahap perkembangan moral tertentu tanpa lebih dahulu mencapai tahap perkembangan moral sebelumnya.

–    Siswa Jika seseorang meningkat ke tahap yang lebih tinggi, struktur berpikir pada tahap yang lebih tinggi terintegrasi kembali dengan struktur berpikir pada tahap yang lebih rendah.

WAWANCARA KEPUTUSAN (JUDGMENT) MORAL

[]   Seseorang dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secara langsung bagiamana solusinya terhadap dilema tersebut dan mengapa mengambil keputusan seperti itu.

[]   Instrumen berisi 3 dilema hipotesis. Setiap dilema menghadapkan subjek pada sousi yang sulit dan harus memilih dua nilai yang bertentangan.

TAHAP-TAHAP KEPUTUSAN MORAL

Tingkat 1.  Prakonvensional

Tahap 1.   Moralitas Heteronomi

Taat pada hukuman karena takut dihukum dan ingin patuh.

Tahap 2.   Individualisme, Tujuan Instrumental dan Pertukaran

Mentaati peraturan sesuai dengan kepentingannya sendiri, kebutuhannya sendiri.

Tingkat 2. Konvensional

Tahap 3.   Harapan Bersama Antarpribadi, Hubungan dan Persesuaian Antarpribadi

Berbuat sesuai dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya atau sesuai dengan harapan orang pada umumnya.

Tahap 4.   Melaksanakan tugas-tugas yang telah disetujui, hukum ditepati, kecuali dalam kasus yang ekstrim.

Tingkat 3. Pasca Konvensional

Tahap 5.   Kontrak Sosial dan Hak Milik dan Hak Individu

Menyadari bahwa masyarakat memiliki nilai dan pendapat.

Tahap 6.   Prinsip-prinsip Etis Universal

Mengikuti prinsip-prinsip etis pilihan pribadi. Bila undang-undang tidak valid maka orang akan mengikuti prinsip.

 

III. KARAKTERISTIK DAN KOMPETENSI AFEKTIF

KARAKTER AFEKTIF

[]   Yaitu kualitas yang menunjukkan cara-cara khusus dalam berpikir, bertindak dan merasakan dalam berbagai situasi.

[]   Kegiatan belajar dalam ranah afektif dapat diketahui dri tingkah lau murid yang menunjukkan adnaya kesenangan belajar. Perasaan, emosi, minat, sikap dan apresiasi positif menimbulkan tingkah laku yang konstruktif dalam diri pelajar.

KATEGORI KARAKTERISTIK

  1. Kognitif yang berhubungan dengan cara berpikir yang khas.
  2. Psikomotor yang berhubungan dengan cara berpikir yang khas.
  3. Karakteristik afektif, yaitu cara-cara yang khas dalam merasakan emosi.

KRITERIA KARAKTERISTIK AFEKTIF

  1. Harus melibatkan perasaan dan emosi seseorang
  2. Harus bersfiat khas
  3. Merupakan kritearia yang lebih spesifik, harus memiliki intensitas, arah dan terget.

HIERARKI KEBUTUHAN GRAVES

[]   Manusia memiliki tingkat-tingkat kebutuhan yang berbeda. Ada yang menunjukkan prilaku yang mengutamakan kebutuhan yang berada di tingat rendah maupun tinggi.

Teori Kebutuhan GravesTeori Kebutuhan MaslowKeterangan:

1. Kebutuhan Fisiologis

Kepuasan kebutuhan fisiologis (tempat tinggal, makanan, pakaian) biasanya berhubungan dengan uang.Fungsi sejumlah uang untuk memuaskan kebutuhan menjadi hilang jika seseorang meningkat dan mengutamakan kebutuhan fisiologi dan keselamatan ke hierarkii kebutuhan yang lebih tinggi.

2.  Kebutuhan Keamanan

Semua orang mengharapkan terhindar dari kecelakaan, perang, bencana alam, penyakit dan ketidakstabilan ekonomi.

3.  Kebutuhan Sosial

Kebutuhan sosial biasanya sangat didominasi dalam kehidupan. Kebanyakan individu berhubungan dengan orang lain dan meras amenjadi anggota dan diterima dalam suatu kelompok sosial.

4.  Kebutuhan Harga Diri

Kebutuhan akan harga diri dapat berbentuk prestise dan kekuasaan. Prestise adalah suatu keadaan yang diharapkan dari orang lain dalam posisi tertentu. Kekuasaan merupakan sumber yang memungkinkan seseorang mempengaruhi orang lain.

5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri

Dua motif yang berhubungan dengan aktualisasi diri adalah kompetensi dan capaian. Kompetensi adalah salah satu dasar tindakan dari mausia. Orang yang bermaksud mencapai sesuatu, lebih memperhatikan pada capaian pribadi daripada hadiah atas keberhasilannya.

TAHAP PERKEMBANGAN AFEKTIF

1.  Impersonal ; Pribadi yang tidak jelas

2.  Heteronomi; Pribadi yang jelas

3.  Antarpribadi; Pribadi-teman sejawat

4.  Psikologis-personal; Afek yang dapat dibedakan satu sama lain

5.  Pusat afek di sekitar konsep abstrak tentang otonomi diri dan orang lain

6.  Integritas; Pusat afek sekitar konsep abstrak inte4gritas diri dan orang lain.

PENEKANAN ASPEK AFEKTIF

[]   Penekanan perkembangan afektif adalah pada bagaimana perasaan anak, bukan pada apa yang dirasakan.

KOMPETENSI AFEKTIF ANAK

[]   Berwujud: sikap, nilai, kesadaran akan harga diri, motivasi, minat, dan sebagainya.

[]   Latar belakang murid: seks, umur, status sosial ekonomi, capaian belajar dan kepribadian.

[]   Suasana sekolah: guru, suasana kelas, materi kurikulum dan strategi instruksional.

KOMPETENSI AFEKTIF GURU

1.  Menunjukkan ketajamaman perhatian

2.  Menunjukkan sikap positif

3.  Menunjukkan keramahtamahan dan kegembiraan

4.  Dapat menjaga rahasia

5.  Mempraktekkan kerjasama

6.  Menunjukkan empati dan memahami kebutuhan murid.

7.  Menunjukkan empati dan memahami kebutuhan murid

8.  Mengakui kesalahan

9.  Menunjukkan keadilan

10. Menunjukkan kejujuran dan keikhlasan

11. Menunjukkan sifat rajin dan penuh inisiatif

12. Menunjukkan sifat kedudukan dan menerima ide-ide baru.

13. Menunjukkan pandangan yang optimistik

14. Menunjukkan kesadaran akan harga diri positif dan stabilitas

15. Menunjukkan sifat humor

16. Menunjukkan kesungguhan

17. Menunjukkan sifat bijaksana

18. Menunjukkan sifat toleran dan sabar

19. Menunjukkan pengaruh positif

20. Menunjukkan kemampuan memimpin

21. Responsif terhadap kebutuhan individual.

PENDIDIKAN NILAI

Komprehensif menyangkut pemahaman:

1.  Isi pendidikan nilai harus komprehensif, meliputi semua permasalahan yang berkaitan dengan pilihan nilai-nilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan mengenai etika secara umum.

2.  Metode pendidikan nilai juga harus komprehensif. Termasuk di dalamnya inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan menyiapkan generasi muda yang dapat mandiri.

3.  Pendidikan nilai hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses pendidikan di kelas, dalam kegiatan ekstrakulikuler, dalam bimbingan dan penyuluhan, upacara, dan sebagainya.

PENDEKATAN PENDIDIKAN NILAI

1.  Realisasi Nilai

Semua pendekatan untuk menolong individu menentukan, menyadari, mengimplementasikan, bertindak dan mencapai nilai-nilai yang diyakini dalam kehidupan, termsduk pendekatan realisasi nilai.

2.  Pendidikan Watak

Tujuannya mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku.

3.  Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan nilai atau moral ditujukan untuk mengajarkan nilai-nilai yang menjadi dasar negara, yang menjadi dasr hukum dan politik.

4.  Pendidikan Moral

Pendidikan moral mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan perilaku yang baik, jujur penyayang yang dapat dinyatakan istilah bermoral.

PENDEKATAN KOMPREHENSIF

1.  Inkulkasi

Ciri-cirinya (1) mengkomunikasikan kepercayaan disertai alasan yang mendasarinya; (2) meperlakukan orang lain secara adil (3) menghargai pandangan orang lain; (4) mengemukakan keraegu-raguan atau permasalahan tidak percaya disertai dengan alasan dan dengan rasa hormat; (5) tidak sepenuhnya mengontrol lingkungan untuk meningkatkan kemungkinan penyampaian nilai-nilai yang dikehendaki dan mencegah kemungkinan penyampaian nilai-nilai yang atidk dikehendaki.

2.  Keteladanan Nilai

Dalam pendidikan nilai dan spiritualitas, pemodelan atau pemberian teladan merupakan strategi yang biasa digunakan baik guru maupun orang tua sebagai keteladanan.

3.  Fasilitasi

Fasilitasi melatih subjek didik mengatasi masalah-masalah tersebut. Kegiatan fasilitasi secara signifikan dapt meningkatkan hubungan pendidik dan subjek didik. Kegiatan fasilitasi menolong subjek didik memperjelas pemahaman.

4.  Pengembangan Ketrampilan Akademik dan Sosial

Ketrampilan berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi secara jelas, menyimak, bertindak asertif dan menemukan resolusi konflik.

EVALUASI KOMPREHENSIF

Moral               Moral                Moral

Values ——> Values ——-> Value

Reasoning          Affect               Action

EVALUASI PENALARAN MORAL

Tujuan pendidiikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai. Subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir dalam permasalhan nilai sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan yang harus dilakukan.

3 TINGKAT PENALARAN PERMASALAHAN MORAL KOHLBERG

1.  Prakonvensional

Keyakinan bahwa benar berarti mengikuti aturan kongkret untuk menghindari hukuman penguasa. Perilaku yang benar adalah yang dapat memenuhi keinginan sendiri atau keinginan penguasa.

2.  Konvensional

Benar berarti memenuhi harapan masyarakat. Keinginan bertindak sesuai dengan harapan masyarakat mengarah seseorang untuk berperilaku yang baik. Pandangan sosial, loyalitas dan persetujuan oleh pihak lain merupakan perhatian utama orang yang penalarannya pada tingkat ini.

3.  Pascakonvensional

Kebenaran, nilai atau pirnsip-prinsip yang bersifat umum yang menjadi tanggungjawab, baik individu maupun masyarakat untuk mendukungnya.

EVALUASI KARAKTERISTIK AFEKTIF

[]   Dengan menggunakan tahap perkembangan afektif Dupon (lihat bab II) interpersonal, heteronomous, antarpribadi, psychological personal, autonomous, integritous.

[]   Dengan menggunakan pengukuran skala Likert atau Guttman dan semantic differential yang dikembangkan oleh Nuci.

Langkah Pembuatan Instrumen Linkert

1.  Membuat definisi operasional karakteristik yang akan diukur (misalnya sikap, nilai atau kesadaran akan harga diri)

2.  Menemukan indikatornya

3.  Menyusun sejumlah pernyataan/pertanyaan positif dan negatif yang seimbang dalam suatu kontinun mulai dari sangat setuju, sangat tidak setuju sampai tidak pernah.

EVALUASI PERILAKU

Perilaku moral (moral action) hanya mungkin dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan terus menerus.

 

ISTILAH-ISTILAH

Konsepsi moralitas naturalistik:  seseorang melakukan benar dan baik bila tidak melanggar hukum karena sudah diatur oleh manusia dalam masyarakat

The morality of our time: sistem aturan untuk bertindak yang mengatur perilaku bersifat lokal.

Emotivism: Kriteria yang dipakai dalam moral bukan berdasar pada kriteria logis, namun psikologis.

Formalisme: istilahmoralitas merujuk pada bentuk wacana rasional baik yang harus dikerjakan.

Self Directed : Manusia secara instrinsik baik hanya memerlukan dorongan agar ke jati diri tidak sekedar oleh lingkungan, tetapi harus bisa mengatur diri sendiri.

Voluntary action: Nilai moral yang pelaksanaannya harus bersifat sukarela.

To be in the color of his surrounding while retaining his own bent. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi tidak mengorbankan nilai-nilai posisif yang harus dipertahankan. Apabila kondisi lingkungan diwarnai kekejaman, penuh eksploitasi, subjek harus memiliki kemampuan mengatasinya dan memiliki semangat untuk memodifikasi tindakan.

Utilitarianism rational, yakni suatu keyakinan bahwa tugas dan kewajiban harus didasarkan pada atercapainya kebahagiaan bagi sebagian besar manusia. Dapat terjadi pertentangan antara kebenaran menurut hukum dan kebenaran secara moral, dalam hal ini penalar akan mempelajari cara mengatasinya.


Responses

  1. Hehehe thanks Pak prie resumenya, semoga keluar pas mid atau semesteran, Lainnya mana, kita tunggu. hahahahah

  2. nuwun nuwun ….. apikan tenan kowe le ….

    • Kalau materinya jelas ma enak pak. Tapi kalau tidak ada materi, bagaimana bisa resume dan belajar. Weleh…weleh ….. ujianpun mumet tenan.

  3. thanks ya, ada contoh proposal tesis tentang pendidikan karakter tidak

    • Belum cari je bu. Nanti kalo ada pendidikan karakter tak posting ke blog


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: