Oleh: Supri Hartanto | 7 November 2010

PENGEMBANGAN KULTUR SEKOLAH

Kultur dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur orgaisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.

Kualitas kehidupan sebuah sekolah tergantung pada spirit dan nilai-nilai yang melandasinya. Oleh karena itu banyak pakar budya sekolah yang juga mendefinisikan kultur sekolah sebagai tradisi (bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya) yang dimiliki sekolah yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai yang dianut sekolah.

Idealnya, setiap sekolah tentu memiliki spirit atau nilai-nilai tertentu, misalnya spirit dan nilai-nilai disiplin diri, tanggungjawab, kebersamaan, maupun keterbukaan. Spirit dan nilai-nilai tersebut akan mewarnai pembuatan struktur organisasi sekolah, penyusunan deskripsi tugas, sistem dan prosedur kerja sekolah, kebijakan dann aturan-aturan sekolah, dan tata tertib sekolah, hubungan vertikal maupun horizontal antar warga sekolah, acara-acara ritual. Kondisi tersebut akan membentuk kualitas kehidupan fisiologis maupun psikologis sekolah dan lebih lanjut akan membentuk perilaku, baik perilaku sekolah perilaku kelompok, maupun perilaku perorangan warga sekolah.

Kultur sekolah berpengaruh pada perilaku siswa. Perilaku siswa terbentuk pada dua faktor, pertama, karakteristik dan lingkungan siswa , baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial (masyarakat). Kualitas kehidupan atau tradisi sekolah terbentuk oleh segala kebijakan, struktur, latar fisik, suasana, hubungan formal, maupun informal, dan sistem sekolah. Secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh spirit atau nilai-nilai yang dianut oleh sekolah.    Dalam konsep psikolog perilaku tidak sekedar dalam bentuk psikomotor, melainkan juga aspek afektif dan kogntif. Secara rinci perilaku siswa mencakup, sikap, minat, persepsi, motivasi,  pemikiran, ketrampilan dan kepribadian.

Sikap, minat, persepsi, motivasi pemikiran dan kepribadian merupakan perilaku yang tidak tampak (intangible behavior) sedangkan ketrampilann secara keseluruhan disebut dengan perilaku yang tampak (tangible behavior), dan secara keseluruhan disebut dengan perilaku individu siswa. Perilaku siswa dipengaruhi oleh kultur sekolah, sehingga pembentukan perilaku siswa dapat dilakukan seara maksimal hanya melalui adanya kultur sekolah yang baik.

 

Pengembangan Kultur Sekolah

Kepala sekolah, guru dan seluruh stakeholder dituntut untuk menciptakan kultur sekolah yang betul-betul kondusif sehingga sekolah menjadi lembaga penyemayaman bagi tumbuh dan berkembangnya kecakapan hidup. Proses pengembangan kultur sekolah dapat dilakukan melalui tiga tataran yaitu (1) pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai; (2) pengembangan pada tataran teknis; dan (3) pengembangan pada tataran sosial.

 

Tataran pertama, proses pengembangan kultur sekolah dapat dimulai dengan pengembangan pada tataran spirit dan nilai-nilai, yaitu dengan cara mengidentifikasi berbagai spirit dan nilai-nilai. Kultur sekolah bersumber dari spirit dan kualitas nilai-nilai yang dianut oleh sekolah. Tidak ada pengembangan kultur sekolah yang sistematik tanpa identifikasi berbagai spirit dann nilai-nilai yang dapat dijadikan landasan.

Terdapat dua belas spirit dan nilai-nilai di atas yang harus menjadi sumber kualitas kehidupan sekolahh dalam rangka menumbuhembangkan kecakapan hidup siswa, yaitu spirit dan nilai-nilai: keimanan dan ketakwaan,  kejujuran, keterbukaan, semangat hidup, menyadari diri sediri dan keberadaan orang lain, menghargai orang lain, menghargai orang lain, persatuan dan kesatuan, bersikap dan prasangka positif, disiplin diri; tanggungjawab dan kebersamaan.

 

Tatatan Kedua, proses pengembangan kultur sekolah adalah pengembangan tataran teknis. Pengembangan sekolah bersama stakeholder telah berhasil mengidentifikasi spirit dan nilai-nilai, yaitu dengan cara mengembangkan berbagai prosedur kerja manajemen, saraa manajemen, kebiasaan kerja berbasis sekolah yang betul-betul merefleksikan spirit dan nilai-nilai yang akan dibudayakan di sekolah.

 

Tataran Ketiga, proses pengembangan kultur sekolah adalah pengembangan tataran sosial. Pengembangan tataran sosial dalam konteks pengembangan kultur sekolah adalah proses implementasi dan institusional Pengembangan kultur sekolah tidak akan cukup sekedar melalui teridentifikasinya spirit dan nilai-nilai, juga tidak cukup sekedar dengan cara kepala sekolah engeluarkan berbagai kebijakan atau aturan teknis, namun lebih jauh dari itu yaitu bagaimana seluruh kebijakan dan aturan teknis yang dikembangkan berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu disosialisasikan diamalkan dan secara kontinyu diinstitusionnaisasikan sehingga menjadi suatu kebiasaan di sekolah dan di luar sekolah.

 

Sumber: Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Umum. 2002. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Umum


Responses

  1. Wah, mbok dari kemarin beri tahu kalo ada blok ini pak prie. Kemarin aku lomba mengarang indah pas mid. Sungguh terlalu …..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: