Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

TEORI BELAJAR KOGNITIF

Teori belajar kognitif menekankan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, namun tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dnegan tujuan pembelajarannya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak (Asri Budiningsih, 2005: 34).

Psikologi kognitif mengatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pada pandangan itu teori psikologI kognitif memandang beljar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi (Utami Puji Lestari, 2008: 2).

Teori kognitif menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berinteraksi dengan seluruh konteks situasi. Memisah-misahkan materi pelajaran menjadi komponen yang kecil-kecil dan mempelajari secara terpisah-pisah, akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat luas yang diterima dan menyesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di daam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Teori Piaget menyatakan perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya (Utami Puji Lestari, 2008: 2).

Lebih lanjut lagi Piaget berpendapat dalam bukunya Anita Woolfolk (2004: 41) ”Knowledge is not a copy of reality. To know an object, to know an evenent, is not simply to look at it and make a mental copy or image of it. To know an object is to act on it. To know is to modify, to transform the object, and to understand the process of this transformation, and as a consequence to understand the way the object is constructed.

Ilmu pengetahuan tidak hanya didasarkan pada melihat realita, namun untuk memahami akan objek, dan memahami tentang suatu keadaan memerlukan proses mental. Proses ini memerlukan modifikasi, transformasi objek, dan mengetahui proses transformasi tersebut sebagai konsekuensi untuk memahami tentang objek

Proses adaptasi mempunyai dua bentuk dan terjadi secara simultan, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses perubahan apa yang dialami sesuai dengan struktur kognitif yang ada sekarang, sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami. Apabila individu menerima informasi atau pegalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dipunyai. Proses ini disebut asimilasi. Apabila struktur kognitif yagn sudah dimilikinya yang harus disesuaikan dengan informasi yang diterima, maka hal ini disebut akomodasi (Suciati, 2005: 31).

Sebagaimana dijelaskan di atas, proses asimiliasi dan akomodasi mempengaruhi struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif merupakan fungsi dari pengalaman, dan kedewasaan anak terjadi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu. Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-taap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tetentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.

Piarget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat (Suciati, 2005: 33) yaitu:

a.  Tahap sensori motor (0-2 tahun)

Pertumbuhan kemampuan anak tempat dari eaitan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasaran tindakan, dan dilakukan angkah demi langkah.

b.  Tahap pra operasional (2-8 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan simbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif.

c.   Tahap opeasional (8-11 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah aak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis dan ditandai adanya kekekalan. Anak sudah meiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bearsifat kongkret.

d.  Tahap oprasional formal (11-18 tahun)

Ciri pokok perkembangan pada tahap ini aadlah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dan menggunaan pola berpikir

Proses belajar yang dialami seorang anank pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses beajar yang dialami oeh seorang anak pada tahap pra operasional, dan aka berbeda pula degan anak yang sudah berada pada tahap operasional, kongkret, maupun operasional formal. Semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya.

Bruner mempunyai padangan bahwa belajar menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah aku seseorang. Proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya (Teori free discovery learning). Apabila Piaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif sangat besar pengaruhnya tehadap perkembangan bahasa seseorang, maka Bruner menyatakan bahwa perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif (Asri Budiningsih, 2005: 40).

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang dikemukakan oleh cara melihat lingkungan (Utami Puji Lestari, 2008: 9), yaitu: enactive, iconic dan symbolic.

a.  Tahap enaktif, apabila seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitar. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

b.  Tahap ikonik, apabila seseorang memahami objek-objek atau duianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan.

c.   Tahap simbolik, apabila seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan absrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya daam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematia dan sebagainya menggunakan banyak simbol. Semakin matang seseorang dalam berpirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Penggunaan media daam egiatan pembelajarannya merupakan salah satu bukti masih diperlukannya sistem enaktif dan ikoni dalam belajar (Asri Budiningsih, 2005: 42).

Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dnegan tahap perkembangan orang tersebut. Gagasannya mengenai kurikulum spiral sebagai suatu cara mengorganisasikan materi pelajaran tingkat makro, menunjukkan cara mengurutkan materi pelajaran mulai dari pengajarkan materi secara umum, kemudian secara berkala kembali mengajarkan materi yan saa dalam cakupan yang lebih rinci. Pendekatan penataan materi dari umum ke rinci yang dikemukakannya dalam model kurikulum spiral merupakan bentuk penyesuaian antara materi yang dipelajari dengan tahap perkembagan kognitif orang yang belajar.

Teori-teori belajar yang ada selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghafal. Belajar demikian tidak banyak bermakna bagi siswa. Belajar seharusnya merupaan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif.

Struktur kognitif merupakan struktur organisasi yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu konseptual. Teori kognitif banyak memusatkan perhatian pada onsepsi bahwa perolehan retensi pengetahua baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang dimiliki siswa (Asri Budiningsih, 2005: 44).

Pengetahuan diorganisasikan dalam ingatan seseorang dalam struktur hirarkis. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif dan abstrak membawahahi pengetahuan yang lebih spesifik dan kongkret. Pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu seseorang, akan dapat memudahkan perolehan pengetahuan baru yang lebih rinci. Gagasannya mengenai cara mengurutkan materi pelajaran dari umum ke khusus, dari keseluruhan ke rinci yang sering disebut dengan subsumtive sequence menjadikan beajar lebih bermakna bagi siswa (Asri Budiningsih, 2005: 44).

Advance organizer yang juga dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan advace organizer sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa daam mempelajari informasi baru, karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif siswa. Apabila ditata dengan baik advance organizers akan memudahkan siswa mempeajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarinya (Asri Budiningsih, 2005: 44).

Aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran lebih menekankan bahwa suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual dan proses internal. Dalam merumustkan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.

 

Pustaka :

Asri Budiningsih. (2005). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Bell Gredler, Margaret. (1994). Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Rustatiningsih. (2009).  Implikasi pendidikan, pembelajaran dan pengajaran. Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://re-searchengines.com/ rustanti30708.html

Saidihardjo. (2004). Pengembangan kurikulum IPS. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.

Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suciati. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tim Pedagogig Unpad. (2007). Teori belajar. Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=4

Utami Puji Lestari. (2008). Teori Belajar Kognitif.  Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://teoripembelajaran.blogspot.com/2008 /04/teori-belajar-kognitif.html

Woolforlk, Anita. (2004). Educational psychology (ninth edition). United State of America: The Ohio State University.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: