Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

SOCIAL STUDIES

Pendidikan IPS yang di Indonesia baru diperkenalkan di tingkat sekolah pada awal tahun 1970-an kini semakin berkemcang sejalan dengan perkembangan pemikiran tentang social studies di negara-negara maju dan tingkat permasalahan sosial. Istilah IPS merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah. Nama IPS yang lebih dikenal dengan social studies (di negara lain) merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli atau pakar di Indonesia dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu, Solo. IPS sebagai mata pelajaran di sekolah, pertama kali digunakan dalam kurikulum 1975.

Guna memahami alasan IPS dipilih menjadi program studi di Pendidikan Dasar dan Menengah perlu menurut sejarah dari social studies karena perkembangan social studies menjadi cikal bakal kurikulum IPS di Indonesia. Pengertian social studies sejak kelahirannya terdapat dalam buku karya Saxe berjudul Social Studies in Schools: A History of A Early Years. Menurut Saxe pengertian IPS menegaskan bahwa sosial studies sebagai upaya membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik. Selanjutnya pengertian ini menjadi dasar dalam dokumen “Statement of the Chairman of Committeeo on Social Studies” yang dikeluarkan oleh Committee on Social Studies (CSS) tahun 1913. Dalam dokumen tersebut IPS merupakan bidanga khusus dalam pemanfaatan data ilmu-ilmu sosial sebagai tenaga dalam memperbaiki kesejahteraan umat manusia).

Pada tahun 1921, berdirilah National Council for the Social Studies (NCSS), sebuah organisasi profesional yang secara khusus membina dan mengembangkan Social Studies pada tingkat pendidikan dasar dan menengah serta keterkaitannya dengan disiplin ilmu-ilmu sosial dan disiplin ilmu pendidikan. Pada perkembangan selanjutnya, terutama setelah berdirinya NCSS, pengertian social studies menjadi bidang kajian yang terintegrasi sehingga mencakup disiplin ilmu yang semakin meluas. Pada tahun 1993 NCSS merumuskan social studies sebagai berikut:

Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such diciplines as antrhopology, archaelogy, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help youg people develop the ability to make informed and reasoned dicisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic socety in an interpedent world.

Pendidikan IPS di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dokumen kurikuluml 1975 yang memuat IPS sebagai mata peljaran untuk pendidikan di sekolah dasar dan menengah. Gagasan IPS di Indonesia pun banyak megadopsi dari sejumlah pemikiran perkembangan social studies yang terjadi di luar negeri terutama perkembangan NCSS sebagai organisasi profesional yang cukup besra pengaruhnya dalam memajukan social studies bahkan sudah mampu mempengaruhi pemerintah dalam menentukan kebijakan kurikulum persekolahan.

Definisi Ilmu Pengetahuan Sosial adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis untuk tujuan pendidikan. Pendidikan IPS untuk tingkat sekolah sangat erat kaitannya dengan disiplin ilmu-ilmu sosial yang terintegrasi dengan humaniora dan ilmu pengetahuan alam yang dikemas secara ilmiah dan p edagosis untuk kepentingan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu IPS di tingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat diguakan seagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan agar menjadi warga negara yang baik.

Dengan mempertimbangkan semakin kompleksnya permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, maka pada tahun 1970-an mulai diperkenalkan Pendidikan IPS (PIPS) sebagai pendidikan disiplin ilmu. Gagasan tentang PIPS ini membawa implikasi bahwa PIPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated), interdisipliner, multidimensional bahkan cross disipliner. Karakteristik ini terlihat dari perekmbangan PIPS sebagai mata pelajaran di sekolah yang cakupan materinya semakin meluas seiring dengan semakin kompleksnya dan rumitnya permasalahan sosial yang memerlukan kajian secara terintegrasi  dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial,k yaitu ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan bahkan sistem kepercayaan.

 

Sumber:

Sapriya. 2009. Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: