Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

IDENTIFIKASI PENERAPAN INKUIRI BERBASIS SCIENCE TECHNOLOGY SOCIETY DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

Wacana Awal

Peningkatan mutu pendidikan secara terintegrasi, merupakan tujuan utama dalam pengelolaan pendidikan. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan membutuhkan kerjasama berbagai elemen pendidikan baik pimpinan, guru, administrasi, kurikulum, penentu kebijakan pendidikan, sarana, prasarana maupun elemen lain yang mendukung pendidikan. Kesadaran semua pihak dalam peningkatan mutu pendidikan menjadikan lembaga pendidikan mempunyai dinamisasi yang tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikannya.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Guru sebagai salah satu elemen pendidikan, perlu terus meningkatkan kemampuan mengajarnya untuk dapat memberikan alternatif metode pengajaran yang sesuai dengan peserta didik. Penerapan berbagai metode pembelajaran perlu dianalisis agar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Semakin bervariasinya penggunaan model dan metode pembelajaran, semakin meningkatnya motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Penerapan metode pembelajaran konvensional, diyakini banyak kalangan praktisi pendidikan kurang dapat memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dapat dianalisis berbagai standar kompetensi yang membuka peluang untuk dapat diterapkannya berbagai model pembelajaran. Identifikasi penerapan model pembelajaran merupakan hal yang penting, karena dengan menganalisis kemungkinan diterapkannya metode pembelajaran dalam proses pembelajaran, akan menimbulkan motivasi untuk dapat terjadinya variasi pembelajaran.

Mata pelajaran Bahasa  Indonesia yang merupakan bagian dari pembelajaran di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mempunyai banyak kajian yang dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran akan disinergikan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah metode inkuiri berbasis science technology society. Inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang bersifat menemukan inti pembelajaran,  yang berbasis pada sains teknologi masyarakat. Model ini memang belum begitu tersosialisasikan dalam bentuk  penelitian, mengingat science technologi society banyak diimplementasikan dalam ilmu-ilmu alam.

Adopsi model inkuiri berbasis science technologi society ini diharapkan akan mampu memberikan wacana baru bagi pembelajaran bahasa  Indonesia. Penerapan model ini, mengupayakan keaktifan siswa, kontekstualitas pembelajaran serta menjadikan siswa kritis terhadap permasalahan-permasalahan masyarakat dalam bentuk alternatif solusi pemecahan masalah. Science technologi society memberikan dorongan kepada siswa untuk ikut mencari berbagai alternatif pemecahan masalah dalam kehidupan masyarakat. Implementasi model pembelajaran ini nantinya dapat diwujudkan dalam berbagai penugasan dan karya siswa yang mengarah pada bidang penemuan dan solusi permasalahan masyarakat yang berbasis penerapan keilmuan dan teknologi.

Model inkuiri berbasis science technologi society menuntut keikutsertaan siswa dalam mencari dan memberikan solusi dalam permasalahan masyarakat yang berwujud penugasan dan karya. Siswa tidak hanya menguasai pembelajaran bahasa  Indonesia saja, namun juga dapat melakukan serangkaian proses pembelajaran dan karya yang mengarah pada pemberian wacana tentang sain teknologi, dampak serta solusi permasalahan yang terjadi sebagai akibat dari penerapannya.

Kajian yang akan mengadopsi model inkuiri berbasis science technologi society menimbulkan pertanyaan “bagaimana implementasi penerapan metode inkuiri berbasis science technologi society dalam pembelajaran bahasa  Indonesia khususnya yang diterapkan di Sekolah Menengah Pertama atau yang sederajat?” Pemikiran permasalahan tersebut kemudian dicoba dianalisis dalam bentuk esai ini.

Model Inkuiri berbasis Science Technologi Society

Istilah inkuiri merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris inquiry yang berarti penyelidikan, penelitian. Beberapa karya menggunakan istilah lain yaitu metode penemuan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris discovery method. Kadang kala metode ini juga disebut dengan discovery-inquiry method yang menunjukkan bahwa suatua konsep ditemukan setelah dilakukan suatu penyelidikan (Anna Poedjiadi, 2005: 85).

Model inkuiri merupakan model yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan penelitian sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan apa yang ditemukan peserta didik lain (Mulyasa, 2005: 108).

Model pembelajaran merupakan sebuah perencanaan pengajaran yang menggambarkan proses yang ditempuh pada proses belajar mengajar agar dicapai perubahan spesifik pada perilaku siswa seperti yang diharapkan (Abdul Azis Wahab, 2008: 52). Joyce dalam Trianto (2007: 5) memberikan definisi tentang model pembelajaran yaitu suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain.

Model inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses perpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan (Wina Sanjaya, 2007: 194). Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru perlu merancang kegiatan yang menunjuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan (Trianto, 2007: 109).

Penggunaan model inkuiri dapat berdampak pada pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru perlu merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Langkah-langkah kegiatan menemukan adalah merumuskan masalah, observasi, menganalisis, melaporkan hasil pengamatan serta menyajikan hasil karyanya (Depdiknas, 2002: 10).

Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri (Wina Sanjaya, 2007: 194) yaitu pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai  subyek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tdiak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi siswa berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.

Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya. Strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.

Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana siswa dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal, namun sebaliknya siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala siswa bisa menguasai materi pelajaran. Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut            (1) observasi; (2) bertanya; (3) mengajukan dugaan; (4) pengumpulan data; (5) penyimpulan (Trianto, 2007: 110).

Inkuiri yang berbasis science technology society merupakan strategi pembelajaran menghasilkan warga negara yang memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mampu membuat keputusan-keputusan yang krusial tentang masalah-masalah dan isu-isu yang mutakhir dan mengambil tindakan sesuai dengan keputusan yang dibuatnya tersebut (Arnie Fajar, 2009: 25). Tujuan pendidikan sains abad ke-21 antara lain harus tanggap terhadap kondisi perkembangan imu pengetahuan dan teknologi masa sekarang, masa yang akan datang serta masalah-masalah sosial yang timbul dari isu-isu sosial. Pendidikan sains abad ke-21 hendaknya ditujukan pada pengembangan-pengembangan individu yang tahu sains, mengerti bahwa sains-teknologi dan masyarakat saling mempengaruhi dan saling bergantung mampu mempergunakan pengetahuannya dalam membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari (Eddy M. Hidayat, 1992: 15).

Pada dasarnya pendekatan science technology society dalam pembelajaran, baik pembelajaran sains maupun pembelajaran bidang studi sosial dan bahasa dilaksanakan oleh guru melalui topik yang dibahas dengan jalan menghubungkan antara sains dan teknologi yang terkait dengan kegunaannya di masyarakat. Tujuannya antara lain untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar disamping memperluas wawasan peserta didik (Anna Poedjiadi. 2005: 84). Guru perlu mengubah paradigma bahwa umumnya guru merasa telah melaksanakan tugas mengajarnya dnegan baik, apabila telah mengantarkan peserta didik menguasai konsep-konsep dalam bidang studi yang diajarkannya meskipun belum tentu peserta didik mengaitkan konsep-konsep sains dengan kepentingan masyarakat.

Program Science Technology Society pada umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
  2. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
  3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
  5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
  6. Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam tes.
  7. Penekanan pada ketrampilan proses sehingga siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.
  8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara sehingga dapat mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasikan.
  9. Identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
  10. 10.  Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar (Arnie Fajar, 2009: 25).

Implementasi Model Inkuiri berbasis Science Technologi Society dalam Mata Pelajaran Bahasa  Indonesia

Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi utama bahasa adalah sarana komunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antar penutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakaian. Orang tidak akan berpikir tentang sistem bahasa, tetapi berpikir bagaimana menggunakan bahasa ini secara tepat sesuai dengan kontek dan situasi. Jadi, secara pragmatis bahasa lebih merupakan suatu bentuk kinerja dan performansi dari pada sebuah sistem ilmu. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa haruslah lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran tentang sistem bahasa.

Sastra adalah satu bentuk sistem tanda karya seni yang menggunakan media bahasa. Sastra ada untuk dibaca, dinikmati, dan dipahami serta dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan. Pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada kenyataan bahwa sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi. Oleh karena itu, pembelajaran sastra haruslah bersifat apresiatif. Sebagai konsekuensinya, pengembangan materi, teknik, tujuan dan arah pembelajaran sastra haruslah lebih menekankan kepada pembelajaran yang bersifat apresiatif.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Bab V Standar Kompetensi Lulusan pasal 25 ayat (3) menjelaskan bahwa kompetensi lulusan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tetang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia adalah:

1.   Mendengarkan

Memahami wacana lisan dalam kegiatan wawancara, pelaporan, penyampaian berita radio/TV, dialog interaktif, pidato, khotbah/ceramah, dan pembacaan berbagai karya sastra berbentuk dongeng, puisi, drama, novel remaja, syair, kutipan, dan sinopsis novel.

2.   Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, pengalaman, pendapat, dan komentar dalam kegiatan wawancara, presentasi laporan, diskusi, protokoler, dan pidato, serta dalam berbagai karya sastra berbentuk cerita pendek, novel remaja, puisi dan drama.

3.   Membaca

Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami berbagai bentuk wacana tulis dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, drama, novel remaja, antologi puisi, novel dari berbagai angkatan.

4.   Menulis

Melakukan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk buku harian, surat pribadi, pesan singkat, laporan dinas, petunjuk, rangkuman, teks berita, slogan, poster, iklan baris, resensi, karangan, karya ilmiah sederhana, pidato, surat pembaca, dan berbagai karya sastra berbentuk pantun, dongeng, puisi, dan cerpen.

Mata pelajaran Bahasa  Indonesia, perlu menerapkan pendekatan science technology society, agar siswa tidak hanya mampu untuk menguasai materi-materi pembelajaran, namun juga dapat mengetahui dan terlibat dalam kondisi masyarakat, khususnya tentang dampak ilmu dan tekhnologi. Peran aktif siswa tersebut dapat diwujudkan dari penugasan-penugasan yang diberikan oleh guru serta karya-karya siswa yang lebih menekankan pada penggalian permasalahan masyarakat karena adanya dampak ilmu pengetahuan dan teknologi. Peserta didik diberikan stimulus agar berperan aktif mencari, memahami dan menemukan alternatif solusi dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.

Saat ini perlu adanya perubahan paradigma tentang perlunya proses pembelajaran yang diorganisasikan melalui pendekatan science technology society sebagai upaya melatih peserta didik mengatasi masalah yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat. Latar belakang asumsi ini mengingat perkembangan sains dan teknologi seringkali menimbulkan dampak perubahan masyarakat, sehingga dapat mengubah kondisi kehidupan masyarakat. Perkembangan sains dan teknologi seringkali tidak diiringi oleh kesiapan masyarakat termasuk peserta didik dan kadang menimbulkan shock culture. Diakui pula bahwa sains dan teknologi memiliki dampak positif dan negatif, oleh karena itu masyarakat harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap berbagai teknologi yang mereka terima.

Pembelajaran inkuiri berbasis science technology society banyak memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar peserta didik agar pembelajaran dapat optimal. Dampak dari penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar akan menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna dan bernilai, sebab anak dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, yaitu keadaan yang alami sehingga lebih nyata, lebih faktual, serta kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Ciri pengajaran yang berhasil salah satunya dapat dilihat dari kegiatan siswa belajar. Semakin tinggi kegiatan belajar siswa, semakin tinggi peluang berhasilnya pengajaran. Hal ini berarti kegiatan guru dalam mengajar harus merangsang kegiatan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar khususnya dalam mengimplementasikan model inkuiri berbasis science technology society.

Dalam silabus Mata Pelajaran Bahasa dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan membuka banyak peluang untuk pelaksanaan model inkuiri berbasis science technology society. Melalui model inkuri berbasis science technology society anak diharapkan dapat menemukan berbagai kesimpulan sendiri dari hasil pengamatannya yang juga mengandung solusi permasalahan yang berhubungan dengan penerapan sain teknologi yang berpengaruh pada masyarakat. Guru berperan sebagai fasilitator agar anak dapat melakukan kegiatan pengembangan pemahamannya sendiri dari hasil observasi dan kegiatan menemukan keilmuan yang ingin dipelajarinya. Wujud dari output pembelajaran dapat berupa hasil dari penugasan maupun karya-karya anak dalam bidang sastra yang merupakan hasil penemuannya sendiri berdasar kondisi masyarakat. Penugasan dan hasil karya tersebut sedapat mungkin memuat berbagai solusi permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Model inkuiri yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sasta Indonesia dapat berupa pemberian penugasan mandiri kepada siswa, menganalisis suatu permasalahan yang berhubungan dengan materi pembelajaran Bahasa  Indonesia, maupun kegiatan lain yang berbasis pada aktivitas siswa untuk menemukan keilmuan yang dipelajari khususnya berhubungan dengan penerapan ilmu dan tekhnologi. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri berbasis science technology society tidak begitu sulit diterapkan, mengingat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pembelajaran Bahasa  Indonesia memberikan peluang untuk dilaksanakannya pembelajaran menggunakan model inkuiri.

Identifikasi implementasi model inkuiri dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ini penting dilakukan sebagai upaya untuk menganalisis ketetapan pembelajaran dalam setiap kompetensinya. Identifikasi ini juga akan menimbulkan variasi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dalam setiap kajian pembelajarannya. Guru dapat melibatkan kegiatan siswa secara aktif, sehingga siswa dapat mengetahui permasalahan pembelajaran yang akan dipelajari, menganalisisnya sampai dengan menyimpulkan hasil pembelajaran.

Secara sederhana identifikasi implementasi model inkuiri dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai contoh dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri berbasis berbasis science technology society contohnya: (1) Standar kompetensi “mendengarkan”, siswa ditugaskan untuk menyampaikan hasil wawancara, pidato, pembacaan karya sastra dan lain sebagainya tentang permasalahan masyarakat yang berhubungan dengan penerapan ilmu dan teknologi; (2) standar kompetensi “berbicara”, siswa diberi penugasan untuk menungkapkan pikiran, perasaan, infomasi maupun komentar tentang wawancara, diskusi, pidato, maupun hasil karya yang lebih cenderung mengungkap permasalahan masyarakat yang merupakan dampak dari ilmu dan teknologi; standar kompetensi uusan “membaca”; (3) standar kompetensi lulusan “membaca”, peserta didik secara aktif membaca berbagai bentuk wacana tulis dan berbagai hasil karya sastra yang mengupas permasalahan penerapan ilmu dan teknologi yang berdampak pada masyarakat; serta (4) standar kompetensi “menulis”, yaitu siswa secara mandiri menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam berbagai bentuk karya yang mengungkap permasalahan masyarakat khususnya tentang penerapan ilmu dan teknologi.

Identifikasi penerapan model inkuiri dalam pembelajaran merupakan analisis dari kompetensi dasar yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Melalui identifikasi ini dapat dirancang ketepatan penggunaan model inkuiri berbasis science technology society dalam berbagai kompetensi dasar dalam pembelajaran Bahasa  Indonesia. Identifikasi juga dapat menjadi acuan untuk dapat melakukan berbagai penelitian yang sesuai dengan kelemahan siswa dalam menerima pembelajaran, salah satunya dengan model inkuiri.

Kreativitas guru Bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi implementasi berbagai model pembelajaran, dapat memperkaya khasanah perencanaan pembelajaran. Kajian-kajian mendalam terhadap implementasi penerapan model pembelajaran akan menyebabkan peningkatatan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran yang berdampak juga bagi peningkatan prestasi siswa.

Wacana Akhir

Pembelajaran Bahasa  Indonesia perlu mengembangkan khasanah model pembelajaran dengan menerapkan model inkuiri berbasis berbasis science technology societ. Latar belakang dari pemikiran tersebut mengingat peserta didik perlu dipersiapkan untuk memahami permasalahan yang terjadi di masyarakat serta memberikan masukan terhadap perapan ilmu dan tekhnologi agar tidak berdampak negatif dalam masyarakat. Pembelajaran melalui model inkuiri berbasis berbasis science technology society lebih dapat mengaktifkan siswa, bersifat kontekstual, serta dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk dapat memahami tentang permasalahan masyarakat disamping dapat menguasai pembelajaran Bahasa  Indonesia.

Saran yang dapat diberikan kepada guru maupun berbagai pihak yang berkompenten dalam mengembangkan mata pelajaran Bahasa  Indonesia adalah perlunya saat ini mengubah paradigma pembelajaran untuk menerapkan inkuiri berbasis science technology society dalam mata pelajaran Bahasa  Indonesia. Peserta didik perlu dipersiapkan untuk menguasai pembelajaran Bahasa  Indonesia yang lebih dapat diterapkan dalam masyarakat, khususnya keaktifan siswa dalam menggali, memahami, serta memberikan berbagai alternatif solusi permasalahan dalam berbagai penugasan dan karya peserta didik. Semoga wacana ini dapat memberi pemahaman kepada berbagai pihak sebagai sarana penyadaran perlunya keterlibatan aktif peserta didik dalam menganalisis kondisi masyarakat.


Pustaka

Abdul Azis Wahab. 2008. Metode dan Model-model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Alfabeta.

Anna Poedjiadi. 2005. Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arnie Fajar. 2009. Portofolio dalam Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Isi. Jakarta: Badan Nasional Standar Pendidikan.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas.

Eddy M. Hidayat. 1996. Sains Teknologi Masyarakat. Makalah disampaikan pada seminar Literasi Sains dan Teknologi. Jakarta: Balitbang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Triyanto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sikdiknas). Yogyakarta: Media Wacana Press.

Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kecana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: