Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

DOMINASI TEORI BELAJAR DALAM IPS TERPADU

Menganalisis tentang teori belajar yang dominan dalam pembelajaran efektif tentu saja perlu dianalisis terlebih dahulu kriteria karakteristik IPS dan kriteria pembelajaran yang efektif. Deskripsi tentang dua komponen tersebut menjadi dasar dari pengkajian tentang dominasi teori belajar yang relevan dalam pembelajaran IPS. Kata “dominasi” dalam kajian ini bukan dimaknai bahwa hanya salah satu teori belajar yang tepat dalam pembelajaran IPS, namun lebih diartikan bahwa teori belajar yang diuraikan nantinya merupakan teori belajar yang lebih dominan diantara teori belajar yang lainnya. Semua teori belajar dapat secara efektif diterapkan dalam pembelajaran IPS, hanya saja terjadi dominasi teori belajar melebihi teori belajar yang lainnya. Prosentasi teori belajar yang akan diuraikan melebihi teori belajar yang lain, walaupun sesungguhnya pembelajaran yang efektif merupakan kombinasi antar berbagai teori belajar.

Pembelajaran yang efektif lebih ditujukan pada kemampuan guru untuk mengelola proses belajar mengajar di sekolah. Guna melaksanakan pembelajaran yang efektif maka perlu mempertimbangkan:

a.    Penguasaan bahan pelajaran

Guru harus menguasai bahan pelajaran sebaik mungkin, sehingga dapat membuat perencanaan pembelajaran dnegan baik, memikirkan variasi metode, cara memecahkan persoalan dan membatasi bahan, membimbing siswa ke arah tujuan yang diharapkan, tanpa kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.

b.    Cinta kepada yang diajarkan

Guru yang mencintai pembelajaran yang diberikan, akan berusaha mengajar dengan efektif, agar pelajaran itu dapat menjadi miliki siswa sehingga berguna bagi hidupnya kelak.

c.    Pengalaman pribadi dan pengetahuan yang dimiliki siswa

Pengetahuan yang dibawa siswa dari lingkungan keluarganya, dapat memberi sumbangan yang besar bagi guru untuk mengajar. Latar belakang kebudayaan, sikap dan kebiasaan minat perhatian dan kesenangan berperan pula terhadap pembelajaran yang akan diberikan.

d.    Variasi metode

Waktu guru mengajar abila hanya menggunakan salah satu metode maka akan membosankan, siswa tidak tertarik perhatiannya pada pelajaran. Variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa.

e.    Seorang guru harus menyadari bahwa dirinya tidak mungkin menguasai dan mendalami semua bahan pelajaran. Maka seorang guru harus selalu menambah ilmunya, dan mengadakan diskusi ilmiah dengan teman agar meningkatkat kemampuan mengajarnya.

f.    Bila guru menghaar harus selalu memberikan pengetahuan yang aktual dan menarik minas siswa.

g.    Guru harus berani memberikan pujian. Pujian yang diberikan dengan tepat, dapat mengakibatkan siswa mempunyai sikap yang positif.

h.    Guru harus mampu menimbulkan semangat belajar secara individual (Slameto, 2003: 96).

Pembelajaran efektif bukan merupakan kajian teori yang hanya dapat dibaca dan dipahami, namun perlu dipraktekkan serta membutuhkan pengalaman. Kemampuan guru untuk berinstropeksi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan dan refleksi untuk memperbaiki strategi pembelajarannya, akan menjadikan guru lebih efektif dalam pembelajaran.

Lee Shulman dalam buku Educational psychology (Anita Woolfolk, 2004: 6), memberikan kriteria guru yang profesional perlu memahami tujuh kondisi yaitu:

(1) the academic subjects they teach; (2) general teaching strategies that aplly in all subjects; (3) the curriculum materials and program appropriate for their subject and grade level; (4) subject-specific knowledge for teaching; sepecial ways of teaching certain students and particular concepts, such as the bes way to explain negatif numbers to lower-ability students; (5) the characteristics and cultural backgrounds of leaners; (6) the setting in which studen learn-pairs, small groups, teams, classes, schools, and the community; (7) the goals and purposes of theaching.

Senada dengan pendapat slameto tentang pembelajaran yang efektif, Lee Shulman memberikan kriteria guru yang profesional dalam mengajar yaitu guru yang memahami tentang materi pembelajaran, strategi pembelajaran, kurikulum, pembelajaran yang spesifik, karakteristik dan latar belakang pembelajaran, setting pembelajaran, maupun tujuan akhir dari pembelajaran.

Setelah mengetahui tentang pembelajaran yang efektif untuk menganalisis teori pembelajaran yang sesuai, maka perlu juga dianalisis tentang karakteristik pembelajaran IPS. Karakteristik pembelajaran IPS mempunyai sifat yang studi integral dari berbagai kompentensi yang dimiliki oleh siswa, antara lain:

  1. IPS bertujuan untuk mempromosikan kompetensi warga negara yang mencakup pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diperlukan oleh siswa untuk dapat melakukan kewajiban sebagai warganegara yang baik.
  2. Program IPS mengintegrasikan seluruh kemampuan, pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang bersifat interdisipliner.
  3. IPS bertujuan membantu siswa untuk membangun pengetahuan dasar dan sikap yang bersumber pada ilmu-ilmu sosial untuk melihat realitas kehidupan.
  4. Program IPS mencerminkan perubahan alamiah dari pengetahuan, melalui pendekatan integral terbaru untuk menyelesaikan isu-isu kemanusiaan, kemiskinan, kejahatan, kesehatan), melihat isu-isu dari berbagai disiplin ilmu, penggunaan teknologi dan hubungan global (Saidiharjo, 2004: 32).

Berdasarkan dari karakteristik IPS pada karakteristik pertama dan kedua menyangkut tiga ranah belajar yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Karakteristik kedua lebih cenderungan kepada nilai keilmuan yang dikaitkan dengan realitas kehidupan. Pada karakteristik ketiga lebih cenderung progresif untuk menganalisis permasalahan-permasalahan yang ada pada kehidupan sosial.

Berdasarkan karakteristik pembelajaran IPS, teori pembelajaran yang lebih dominan untuk digunakan pada proses pembelajaran adalah teori belajar sosial. Latar belakang dari pemilihan teori belajar sosial, karena sifat pembelajaran lebih cenderung kepada pemberian nilai-nilai dasar sosial yang akan membentuk sikap sosial yang positif. Kemampuan guru untuk memberi makna pada nilai sosial untuk diberikan kepada siswa akan dapat membentuk kepedulian siswa terhadap realita permasalahan sosial di masyarakat.

Teori sosial dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam setting yang alami lingkungan sebenarnya. menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku, lingkungan dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (Tim Pegadogig Unpad, 207: 8).

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Teori belajar sosial Albert Bandura berusa menjelaskan hal belajar dalam latar wajar. Tidak seperti halnya latar laboratorium, lingkungan sekitar memberikan kesempata yang luas kepada individu untuk memperoleh ketrampilan yang kompleks dan kemampuan melalui pengamatan terhadap tingkah laku model dan konsekuensi-konsekuensinya (Bell Gredler, 1994: 370)

Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal. Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan. Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda. Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu. Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.

Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan) memegang peranan penting.

Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi). ebih lanjut menurut Bandura penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku (Tim Pegadogig Unpad, 207: 10).

Teori tersebut lebih dominan dalam pembelajaran IPS, karena lebih menekankan pada sinergi antara sosial dengan pembelajaran. Keterkaitan antara kondisi sosial di masyarakat dengan IPS akan menjadikan siswa mempunyai sikap hidup yang perduli dengan lingkungan sosial yang ada di sekitarnya. Keperdulian yang ditanamkan dalam sikap siswa tersebut tidak mengesampingkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Keilmuan IPS secara teoritik tetap menjadi landasan awal pemahaman siswa terhadap kondisi masyarakat.

Teori belajar sosial yang menjadi landasan dari pembelajaran IPS, kemudian dimodifikasi dan dijabarkan dalam bentuk rencana pembelajaran, penyiapan media, dan mengelola strategi pembelajaran agar pembelajaran lebih efektif. Teori belajar sosial akan lebih dapat dimunculkan dalam pembelajaran IPS tanpa mengesampingkan teori pembelajaran yang lainnya. Mengkaitkan antara kehidupan sosial dengan pembelajaran secara kontekstual, akan menambah wawasan siswa terhadap pembentukan nilai sikap yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosialnya.

Seperti yang telah diungkapkan pada awal analisis, bahwa teori belajar sosial tidak dapat berdiri sendiri untuk menjadi dasar dari proses belajar mengajar, namun juga dipengaruhi oleh teori pembelajaran yang lainnya walaupun prosentasenya tidak begitu dominan. Dalam evaluasi pembelajaran IPS dipengaruhi oleh teori behavioristik, karena lebih cenderung dengan test-test akademik. Dalam pembelajaran IPS juga harus mempertimbangkan teori humanistik dalam proses belajar mengajarnya, serta memperhatikan kawasan kognitif. Pembelajaran yang kontekstual yang diajarkan melalui pembelajaran IPS juga perlu diarahkan pada teori cybernetik agar pengetahuan siswa berada pada kawasan LTM (long term memory).

Pada dasarnya sebagai wacana akhir dalam analisis ini adalah berdasrkan dari sifat pembelajaran yang efektif dan karakteristik pembelajaran IPS, teori belajar yang lebih dominan adalah teori belajar sosial, dan disempurnakan dengan teori-teori pembelajaran yang lainnya sebagai kolaborasi yang sinergi dalam proses belajar mengajar.  Seperti yang dikatakan oleh Anita Woolfolk “Expert teachers not only know the content of subject they teach, they also know how to relate this content to world outside the classroom and how to keep students involved in learning.”

Pustaka :

Asri Budiningsih. (2005). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Bell Gredler, Margaret. (1994). Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT Grafindo Persada.

Rustatiningsih. (2009).  Implikasi pendidikan, pembelajaran dan pengajaran. Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://re-searchengines.com/ rustanti30708.html

Saidihardjo. (2004). Pengembangan kurikulum IPS. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta.

Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suciati. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tim Pedagogig Unpad. (2007). Teori belajar. Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=4

Utami Puji Lestari. (2008). Teori Belajar Kognitif.  Diambil pada tanggal 6 Oktober 2009, dari: http://teoripembelajaran.blogspot.com/2008 /04/teori-belajar-kognitif.html

Woolforlk, Anita. (2004). Educational psychology (ninth edition). United State of America: The Ohio State Universit


Responses

  1. TERIMA KASIH PAK


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: