Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

ARISTOTELES: MASYARAKAT SIPIL

Aristoteles memandang masyarakat manusia sebagai suatu usaha etis, yang berakar dalam kemampuan individu yang bersifat kodrati, yang terarah pada perwujudan kebaikan moral dan keunggulan intelektual dalam masyarakat politis. Cara Aristoteles mendekati objek-objek bersifat medis dan biologis, yaitu pendekatannya menggunakan gagasan-gagasan tentang pertumbuhan organisme menuju kematangan sebagai suatu yang terdiri atas bekerjanya sifat-sifat khas manusia secara semestinya, yang dapat disamakan dengan kebahagiaan.

Aristoteles mencari standar-standar penilaian normatifnya dan kebaikan komunitas sebagai keseluruhan yang ia utamakan di atas keinginan-keinginan dan kesejahteraan para individu khusus, dengan memberi isi tertentu pada pandangan bahwa ada sebuah sentuhan normatif di dalam pendekatannya. Pendekatan ini memberi komunitas sipil idealnya sebuah segi otoriter dan bersama dengan ketidakpercayaan atas demokrasi murni yang dianggap sebagai sebuah bentuk masyarakat yang tidak stabil.

Pendekatan biologis dari Aristoteles mencakup analisis kenyataan-kenyataan  menjadi bagian-bagiannya dan mengelompokkan menurut spesies dan genus. Jadi manusia adalah mahkluk dengan unsur-unsur tertentu yang khas, khususnya rasio dan bahasa. Keduanya penting karena memberinya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar etis. Kualitas-kualitas ini dilapiskan di atas unsur-unsur non rasional, yang lazim untuk segala mahkluk, seperti proses-proses pertumbuhan organisme yang tak sada, emosi-emosi atau nafsu-nafsu, seperti hasrat dan naluri seksual yang condong ke arah pemenuhan tertentu atau kebaikan. Bagian rasional itu sadar dan bebas. Bagian itu menjadi rasio praktis yang memiliki fungsi mengontrol nafsu-nafsu dan rasio teoritis, yang dapat memahami apa yang berlangsung dalam alam semesta dan memahami operasi-operasinya.

Manusia mempunyai nafsu-nafsu yang bersifat sosial, yang kadangkala hanya mengejar kenikmatan, kebanggaan kekuasaan atas orang lain serta nafsu untuk berprestasi secara tidak terbatas. Hal ini terjadi  menyababkan manusia berbuat kejahatan. Manusia pada umumnya rakus dan pengecut, dan mereka mempunyai kekuatan untuk bertindak dengan sadar. Manusia yang senantiasa mengejar kenikmatan rendah ini adalah keadan dari kebanyakan manusia, tetapi Aristoteles percaya akan kemampuan manusia untuk menemukan dan lebih memilih kesenangan-kesenangan yang luhur dari kegiatan moral dan mental, melihat pada kehidupan sebuah komunitas yang tersusun baik, yang bagaimanapun mengikat manusia, untuk memperkembangkan kodrat sejatinya. Oleh karena itu, masyarakat bersifat kodrati bagi mansuai karena di dalam manusia ada penyebab-penyebab efisien dari kehidupan sosial, hasrat seksual dan kebutuhan untuk bersahabat, dan juga karena sebuah kelompok sosialah kodaratnya dapat berkembang.

Bagian inti dari kodrat rasional manusia adalah kemampuan untuk mengikuti standar-standar moral merupakan sebuah keseimbangan antara berbagai hal dalam perasaan dan prilaku manusia. Jadi keberanian adalah sebuah jalan tengah antara penakut dan sikap membabi buta. Kemurahan hati adalah sebuah keseimbangan antara sikap kikir dan royal. Demikian juga halnya mengenai keutamaan-keutamaan moral lainnya seperti keadilan, kebesaran hati, kesabaran dan sikap tenang.

Aristoteles menganggap bahwa tingkat perasaan yang tepat dan jenis perbuatan yang nmemperlihatkan titik tengah itu sulit, barangkali mustahil, untuk ditentukan, sehingga diserahkan kepada manusia memiliki rasio praktis yang mempunyai pengalaman semua kenikmatan itu. Tetapi keutamaan terutama terdiri dari sikap hati untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar umum itu. Dan pada prinsipnya  terjadi melalui  sebuah pendidikan yang keras dan ketat yang membuat tingkah laku utama menjadi biasa. Akan tetapi keutamaan bukanlah satu-satunya segi kehidupan yang baik dan membantu untuk memajukan kehidupan sosial. Kerjasama sosial juga perlu untuk keamanan dan kemakmuran material yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan manusiawi yang lebih luhur.

Kemampuan sosial manusia yang bersifat kodrati itu memiliki banyak bentuk. Aristoteles mengumpulkan kemampuan-kemampuan itu menjadi satu di bawah satu kelompok yaitu persahabatan. Persahabatan yang dimaksud adalah sebuah ikatan kasih sayang antara individu yang meliputi keinginan untuk bekerjasama. Persahabatan memiliki sebuah fungsi sosia-logis maupun normatif. Bentuk persahabatan khusus adalah sebuah unsur pada setiap taraf kehidupan komunitas seperti hubungan seksual, hubungan keluarga. Namun hubungan yang paling luhur adalah hubungan yang saling mencintai.

Persahabatan orang-orang sejajar sekaligus merupakan sebuah kekuatan pemersatu di dalam komunitas ini dan merupakan tujuan-tujuan hubungan-hubungan manusiawi. Persahabatan orang-orang yang sejajar itu adalah sebuah model dari konsensus kesempurnaan. Namun karena hanya segelintir orang yang bisa mencapai persahabatan sempurna itu, masyarakat-masyarakat aktual dirusak oleh konflik dan harus diorganisasikan menurut peraturan-peraturan keadilan yang ditanamkan dengan pendidikan yang diarahkan oleh neara dan didukung dengan paksaan yang keras.

Kemampuan manusia untuk memahami dan mengikuti aturan-aturan, yang berasal dari rasionalitas manusia, oleh karena itu sama pentingnya dalam membuat kehidupan sosial mungkin seperti potensi manusia untuk membentuk hubungan-hubungan kasih sayang.

 

Teori Aristoteles tentang Masyarakat

Konsep Aristoteles tentang masyarakat negara dan saling berkaitan sehingga lebih baiknya menggunakan istilah piolis untuk mengartikan komunitas sipil yang diyakini sebagai latar sosial kodrati manusia. Istilah lain yang lebih umum diungkapkan Aristoteles untuk sebuah kelompok sosial adalah “koinoa” yang meliputi segala macam komunitas atau perkumpulan, dimana pada taraf tertentu ada sikap berbagi atau persahabatan. Kelompok yang paling sederhana adalah keluarga atau “oikos” yang muncul dari naluri seksual dan naluri  berpasangan yang sama-sama dimiliki manusia dan binatang dan didukung dengan cinta timbal-balik dari orang tua dan anak-anak.

Berdasarkan dasar-dasar kekeluargaan tersebut kemudian berkembang membentuk desa dan menghasilkan polis yang merupakan kumpulan dari desa-desa di sekitar sebuah kota pusat. Pollis tidak hanya meningkaktkan keamanan terhadap serangan dari luar dan memudahkan perdagangan dan diperluan untuk perkembangan ekonomi.

Aristoteles tidak menerima demokrasi menyeluruh. Kepercayaannya akan keunggulan kodati beberapa orang menyebabkan lebih menyukai sebuah posisi istimewa untuk bagian-bagian yang lebih makmur dari komunitas itu, tetapi ia sadar akan kebutuhan akan jenis keseimbangan dalam polis diantara kaya dan miskin dan sadar akan kecenderungan, bahkan orang-orang yang baik, ke arah korupsi karena jabatannya. Oleh karena itu ia berpendapat bahwa semua warga negara, pada prinsipnya dapat dipilih sebagai pejabat-pejabat kehakiman dan berlaku sebagai juri-juri, dengan demikian memelihara kesamaan pada taraf tertentu di antara para warga negara dan memberi dasar tertentu untuk pernyataannya bahwa sebuah polis yang ideal dalah “sebuah komunitas orang-orang yang sama kedudukannya, yang mengarah pada kehidupan yan gsebaik mungkin”.

Sebuah polis adalah sebuah komunitas yang para anggotanya adalah warga negara. Seorang wraga negara adalah seseorang yang memiiki jenis hak tertentu untuk menduduki jabatan di dalam negara kota itu, sekalipun hanya sebagai anggota majelis. Dalam polis terdapat konstitusi yang mencantumkan siapa yang berkuasa dan tujuan yang diarah dari komuinitas itu. Aristoteles kemudian menggolongkan polis berdasarkan pada bentuk penampilan, badan sipil yang meaksanakan fungsi-fungsi pokok pemerintahan. Terdapat enam jenis polis utama. Tiga bentuk yang baik adalah (1) Monarkhi, bila satu orang memerintah dnegan kepentingan polis; (2) aristokrasi, bila segelintir orang memerintah dengan cara yang sama dan (3) Politeia, pemerintahan banyak orang untuk tujuan yang sama. Bentuk-bentuk pemerintahan yang jelek adalah (1) tirani; (2) Oligarkhi dan (3) demokrasi, pemerintah dari satu, segelintir dan banyak orang bila diarahkan menuju kepentingan-kepentingan para penguasa sendiri.

Aristoteles mengakhiri dengan sebuah sistem hierarkis: pada puncaknya adalah mereka yang baik sejak kelahirannya dan orang-orang yang relatif kaya yang juga berkeutamaan. Di bawahnya adalah bagian-bagian yang kaya tapi tidak berkeutamaan dari komunitas itu, para tuan dari rumah-rumah tangga pertanian, yang semuanya memiiki tempat tertemtu dalam kehidupan sipil dari polis. Di luar mereka adalah massa penghunhi kota yang bekerja dalam perdagangan, toko-toko. Pada dasar hierarki itu, budak-budak alamiah dan orang-orang asing.

 

Kritik dan Penilaian tentang Komunitas Sipil dari Aristoteles

Kritik yang paling pedas dan langsung atas teori Aristoteles tentang masyrakat adalah dia melakukan kesesatan naturalis dengan bergerak tanpa argumen-argumen yang benar dari observasi-observasi faktual mengenai masyarakat-masyarakat aktual ke kesimpulan-kesimpulan yang normatif mengenai bentuk-bentuk ideal atau dari organisasi sosial. Kritik yang lainnya, Aristoteles mengenai perbudakan kodrati, walaupun teori ini tidak membenarkan perbudakan, sebagaimana ia mengamatinya di Athena, membuat klaim-klaim empiris yang tidak beralasan mengenai kemampuan-kemampuan rendahan dari kelompok-kelompok khusus. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai pernyataan-pertanyaan ideologi belaka yang melayani fungsi dan mempertahankannya kedudukan istimewa ras dan kelas.

 

Literatur Sumber:

Tom Cambell. 1994. Tujuh Teori Sosial. (Terjemahan: F. Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: