Oleh: Supri Hartanto | 17 April 2011

TUJUH TEORI SOSIAL

ARISTOTELES (Komunitas Sosial)

Landasan Teori
Aristoteles memandang masyarakat manusia sebagai sebuah usaha etis, yang berakar dalam kemampuan sosial manusia yang bersifat kodrati, yang terarah pada perwujudan kebaikan moral dan keunggulan intelektual dalam sebuah masyarakat politis.

Pendekatan Aristoteles
Pendekatan Aristoteles bertolak pada dua sifat filsafatnya yaitu; bersifat naturalis dan teologis. Filsafatnya naturalis karena pertama-tama bersifat empiris dan didasarkan pada pandangan yang bernuansa biologis. Sedangkan bersifat teologis karena analisisnya memusatkan semua kejadian maupun masing-masing jenis pengada ke arah tujuan-tujuan.

Teori Aristoteles tentang Manusia
Pendekatan biologis dari Aristotels mencakup analisis kenyataan-kenyataan menjadi bagian-bagiannya dan mengelompokkannya menurut spesis dan genus. Jadi manusia adalah seekor binatang dengan unsur-unsur tertentu yang khas, khususnya rasio dan tuturan. Keduanya penting karena memberinya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar etis.

Teori Aristoteles tentang Masyarakat
Konsep Aristoteles tentang masyarakat dan negara saling berkait sehingga lebih baik memakai istilahnya sendiri, ‘piolis’, untuk mengartikan komunitas sipil yang ia yakini sebagai latar sosial kodrati dari manusia. Negara-kota yang kecil dengan hubungan temu-mukanya dan bercampurnya persahabatan pribadi dengan kewajiban-kewajiban warga negara, jauh berlainan dari negara kebangsaan modern, atau kerajaan-kerajaan kekaisaran kuno pada zaman Aristoteles sendiri, walaupun polis menyatukan sebuah gagasan yang dikembangkan dengan baik dan terlembaga mengenai peraturan hukum, yaitu gagasan tentang pemerintah melalui peraturan-peraturan umum dan tidak dengan keputusan-keputusan para individu secara sewenang-wenang.

Implikasi-Implikasi Praktis
Kehidupan kodrati bagi manusia adalah di dalam sebuah polis, tetapi Aristoteles sadar bahwa ada macam-macam polis yang berbeda-beda dan tidak semuanya sama-sama cocok untuk perkembangan potensi manusia. Sebuah polis adalah sebuah komunitas atau koinonia yang para anggotanya adalah warga negara. Seorang warga negara memiliki hak tertentu untuk menduduki jabatan di dalam suatu negara atau kota itu.

Kritik dan Penilaian terhadap Aristoteles
Kritik yang paling pedas dan langsung atas teori Aristoteles tentang masyarakat adalah bahwa ia melakukan kesalahan naturalistis dengan bergerak tanpa argumen-argumen yang benar dari observasi-observasi faktual mengenai masyarakat-masyarakat aktual ke kesimpulan-kesimpulan normatif mengenai bentuk-bentuk ideal atau terbaik dari organisasi sosial.

THOMAS HOBBES (Individualisme Instrumental)

Landasan Teori
Rasio, bagi Hobbes, lebih daripada sebuah instrumen untuk memungkinkan individu untuk menemukan cara memperoleh dan mempertahankan apa yang ia inginkan. Hobbes menganggap masyarakat dan tatanan politis dan tempat masyarakat itu bergantung sebagai kondisi-kondisi yang secara intrinsik tidak menyenangkan tapi yang bagaimanapun perlu untuk kelangsungan hidup, piranti-piranti yang menyedihkan dari makhluk-makhluk egois yang terkejut panik yang tak bisa menemukan jalan lain untuk menghindari destruksi timbal-balik.

Pendekatan Hobbes
Pandangan Hobbes bersifat Deskriptif dan preskriptif yang anjurannya lebih menyeluruh dan dogmatis.Ia kadang-kadang mulai dengan menyatakan aksioma-aksiomanya atau definisi-definisinya dan kemudian menggabungkannya untuk menurunkan kebenaran-kebenaran baru tentang dunia. Di lain waktu dia mulai dengan pengamatan atas fenomena dan kembali pada proposisi-proposisi primer yang darinya fenomena ini dapat dideduksikan dengan proses sintetis.

Teori Hobbes tentang Manusia
Menurut Hobbes, manusia adalah sebuah mesin anti-sosial. Ke dalam mesin ini lewatlah masukan-masukan dari lingkungan melalui pancaindera. Masukan-masukan ini menghasilkan reaksi-reaksi fisik internal.

Teori Hobbes tentang Masyarakat

Berdasar pada analisisnya tentang kodrat manusia, Hobbes merumuskan masyarakat sebagai sebuah persekutuan yang terbentuk atas dasar “kontrak sosial” yang digunakan sebagai peranti untuk bertindak menurut keinginan instrumental akan hubungan-hubungan yang damai karena mereka yang ada di dalamnya memiliki jaminan keuntungan-keuntungan yang diinginkan dan atas dasar dorongan hasrat ketergantungan manusiawi.

Implikasi-Implikasi Praktis

Hobbes menuliskan teori sosial dan politisnya dalam sebuah kisah mengenai masa silam yang jauh dan memusatkan perhatian kita pada gagasan mengenai sebuah kontra historis, tetapi dalam kenyataan pemakaian pandangannya ini jauh lebih preskriptif daripada deskriptif. Implikasi yang jelas dari teorinya adalah bahw, dari mana pun asal-usul pemerintahan despotis yang aktual, manusia memiliki alasan yang baik untuk mendukungnya sekarang.

Kritik dan Penilaian terhadap Hobbes

Dalil-dalil psikologi Hobbes terlalu sederhana dan secara tidak memadai di sokong dengan bukti empiris, khususnya kalau dalil-dalil itu di klaim sebagai kebenaran-kebenaran universal mengenai semua manusia. Kontrak sosial Hobbes lebih radikal, yaitu ke-masuk akal-an seluruh gagasannya diragukan. Singkatnya Hobbes tidak membebaskan dirinya sendiri dari pengandaian Aristotelian bahwa mungkinlah memberi sebuah definisi atau deskripsi mengenai kodrat hakiki manusia dan membangun sebuah teori sosial di atasnya.

ADAM SMITH (Sistem Sosial)

Landasan Teori
Teori sosial Adam Smith berangkat dari sebuah kombinasi yang menari dari unsur-unsur Hobbesian dan Aristotelian. Seginya yang paling asli dan paling mencolok adalah gagasan bahwa masyarakat sebagaimana juga individu adalah sebuah sistem, atau mesin, yang bekerja bukan karena maksud-maksud manusia.

Pendekatan Smith
Adam Smith memakai model pendekatan astronomis untuk menerangkan sistem-sistem sosial sebagai mekanisme-mekanisme yang hidup yang bagian-bagiannya tanpa disadari mempengaruhi kehidupan dan kegiatan keseluruhan. Pendekatannya ini didasari oleh kemauannya untuk menjadi Isaac Newton dari ilmu-ilmu sosial.

Teori Smith tentang Manusia
Teori Smith mengenai kodrat manusia bersifat Hobbesian sejauh ia mendalilkan nafsu-nafsu dasar dan nafsu-nafsu asli tertentu. Kendati pun memiliki model sebab akibatnya untuk teori sosial, Smith, tak seperti Hobbes, tidak mengatakan bahwa manusia adalah sebuah mesin. Melalui pandangannya mengenai perkembangan ilmiah, Smith juga menunjukkan bahwa manusia juga memiliki kemampuan-kemampuan penalaran tertentu yang pada dasarnya bersifat psikologis.

Teori Smith tentang Masyarakat

Menurut Smith masyarakat adalah keseluruhan sebagai sebuah mekanisme yang ter-integrasi dengan sebuah tujuan menyeluruh, sebuah tema yang tercermin dalam pandangannya mengenai keluarga sebagai sesuatu yang berasal dari naluri seksual tetapi dipersatukan dengan kenyamanan identifikasi simpati dengan mereka yang terus berkontak dengan kita. Ia menyatakan bahwa syarat sebuah masyarakat adalah ‘keadilan’. Tanpa keadilan, kata Smith, sebuah masyarakat akan menghancurkan dirinya sendiri.

Implikasi-Implikasi Praktis
Sebuah sistem yang efisien yang tersusun sendiri seharusnya tidak dirusak, khususnya kalau proses-proses di dalamnya tidak sepenuhnya dimengerti. Pandangan Smith mengenai cara kerja ekonomi komersial membawa implikasi yang jelas bahwa pemerintah-pemerintah sebaiknya berdiam diri dan dengan demikian menghasilkan apa yang ia sebut ‘sistem kebebasan alamiah yang jelas dan sederhana’. Inilah gagasan liberal mengenai negara minimal, yang terwujud di dalam kebijakan laissez-faire.

Kritik dan Penilaian terhadap Smith

Smith tidak membawa ke studi tentang masyarakat semacam presisi matematis yang mungkin dalam studi mengenai gerakan-gerakan benda-benda angkasa yang bersifat fisik. Teorinya mengenai norma-norma sosial juga problematis, barangkali lebih dari itu, karena rumit-nya fenomena sentimen ‘alamiah’ dalam kenyataan empiris. Pandangan-pandangan Smith sebagian besar tak berlaku, dalam peranan yang dimainkan Allah baik dalam skema penjelasannya dan dalam etika normatif-nya.

KARL MARX  (Teori Konflik)

Landasan Teori
Karl Marx melihat masyarakat manusia sebagai sebuah proses perkembangan yang akan meyudahi konflik melalui konflik. Ia mengantisipasi bahwa kedamaian dan harmoni akan menjadi hasil akhir sejarah perang dan revolusi kekerasan.

Pendekatan Marx
Pertama-tama Marx adalah seorang positivis. Versi positivisme khusus Marx dinamai ‘materialisme sejarah’. Positivisme-nya bersifat historis, dalam arti bahwa generalisasi-generalisasi ilmiah yang ingin ia tetapkan adalah mengenai arus sejarah manusia. Sejarah ia percayai sebagai proses evolusi di mana masyarakat melampaui berbagai tahap, masing-masing tahap menghancurkan dan setelahnya membangun di atas tahap sebelumnya. Marx menganggap bahwa mungkin meng-identifikasi-kan langkah-langkah evolusioner ini dan menjelaskan mengapa masyarakat melewati berbagai tahapnya.

Teori Marx tentang Manusia
Marx mengemukakan gagasan bahwa manusia tidak memiliki kodrat yang persis dan tetap dan ini merupakan pendekatan holistis-nya terhadap penjelasan sosial. Tindakan-tindakan, sikap-sikap dan kepercayaan-kepercayaan individu tergantung pada hubungan-hubungan sosialnya dan hubungan sosialnya tergantung pada situasi kelasnya dan struktur ekonomis masyarakatnya. Oleh karena itu, kodrat manusia bersifat sosial dalam arti bahwa manusia tak memiliki kodrat lepas dari apa yang diberikan oleh posisi sosialnya.

Teori Marx tentang Masyarakat
Dalam teori tentang masyarakat ini, Marx menyebut bahwa masyarakat ibarat sebuah kekuatan produksi. Dengan melihat kemampuan dan potensi manusia, ia menyimpulkan bahwa manusia merupakan suatu sumber tenaga untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.

Implikasi-Implikasi Praktis
Ilmplikasi-implikasi teori Marx tentang masyarakat pada dasarnya berhubungan sebab-akibat. Dengan menelanjangi mekanisme-mekanisme yang berlangsung di dalam ekonomi kapitalis Marx merasa mampu meramalkan keruntuhannya yang segera menyonsong. Selain itu, dilihat dari teorinya tentang produksi pabrik dan stabilitas sistem yang ada di dalamnya, maka dapat ditemukan bahwa ilmplikasi Marx juga merujuk pada revolusi proktarial.

Penilaian dan Kritik terhadap Marx
Teori Marxian kadang-kadang dikatakan tidak konsisten di dalam dirinya sendiri. Marx tidak berpikir bahwa sebab-sebab material dari tingkah-laku sosial melampaui kesadaran manusia. Ketidak konsisten-an dikatakan terjadi dalam kritik Marx atas moralitas sebagai ungkapan dari kepentingan-kepentingan kelas yang disembunyikan sebagai patokan-patokan hak yang bersifat universal dan dipakai oleh kelas-kelas lain sebagai hasil dari kesadaran palsu. Kelemahan Marx sebagai seorang filsuf moral barangkali adalah dia relatif kurang memberi persetujuan evaluatif mengenai prioritas moral dari kedamaian, kemakmuran, harmoni sosial dan kerja kreatif.

EMILE DURKHEIM  (Teori Konsensus)

Landasan Teori
Durkheim mengajukan pengakuan untuk gagasan sebuah ilmu pengetahuan tentang masyarakat yang bisa meyumbangkan pemecahan atas masalah-masalah moral dan intelektual masyarakat. Dia berusaha menjadikan pandangan ini sebuah kenyataan di dalam studi-studi pokok mengenai hakikat solidaritas sosial.

Pendekatan Durkheim
Dukheim dipengaruhi oleh Aguste Comte yang adalah perintis paham positisme. Filsafat positif, berakar kuat dalam kekaguman Durkheim. Sehingga ia menerapkan metode tersebut untuk menemukan prinsip-prinsip keteraturan dan perubahan di dalam masyarakat, sehingga menghasilkan sebuah susunan pengetahuan baru yang bisa dipakai untuk mengorganisasikan masyarakat demi perbaikan umat manusia. Pendekatan ilmiah dan rasionalis, yang dikombinasikan dengan sebuah perspektif sejarah.

Teori Durkheim tentang Manusia
Durkheim berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang jelas bersifat manusiawi –seperti bahasa, moralitas, agama dan kegiatan ekonomi. Memang persis karena tekanan Durkheim bahwa betapa sedikitnya individu sebagai bahan mentah yang dapat dibentuk oleh pengaruh kehidupan kelompok dapat melampaui masyarakat. Durkheim memandang kodrat manusia sebagai sebuah abstraksi yang hampir total dari tingkah-laku manusia-manusia aktual dalam situasi-situasi rel.

Teori Durkheim tentang Masyarakat
Bagi Durkheim, masyarakat adalah sebuah tatanan moral, yaitu seperangkat tuntutan normatif lebih dengan kenyataan ideal daripada kenyataan material, yang ada dalam kesadaran individu dan meski demikian dalam cara tertentu berada di luar individu. Durkheim membagi dua konsep yang berhubungan tentang kenyataan sosial dalam masyarakat, yaitu: gambaran kolektif dan kesadaran kolektif. Gambaran kolektif adalah simbol-simbol yang memiliki makna yang sama bagi semua anggota dalam masyarakat. Sedangkan kesadaran kolektif adalah gagasan yang dimiliki bersama dalam sebuah masyarakat.

Implikasi-Implikasi Praktis
Telaah Durkheim terhadap tatanan sosial dan khususnya dengan disintegrasi masyarakat-masyarakat yang bercirikan pembagian kerja yang dipaksakan dilukiskan dengan pandangannya dalam Suicide tentang apa yang terjadi kalau kekuatan penata masyarakat hancur. Implikasi praktis dari Suicide searah dengan Division of Labour di mana ia persis mencapai kesimpulan yang sama mengenai kebutuhan akan penataan organis untuk membendung anomie.

Penilaian dan Kritis terhadap Durkheim
Durkheim merangsang penilaian kritis tidak semata-mata sebagai seorang filsuf yang merekomendasikan sebuah pendekatan metodologis khusus terhadap studi sosial, tetapi juga menurut standar-standar khusus terhadap studi sosial, tetapi juga menurut standar-standar empiris yang ditemukannya sendiri. sebagai seorang empiris praktis dia tak bisa menutup bahannya terhadap prosedur-prosedur pengujian ilmiah.

MAX WEBBER (Teori Tindakan)

Landasan Teori
Bagi Webber ciri yang mencolok dari hubungan-hubungan sosial adalah kenyataan bahwa hubungan-hubungan tersebut bermakna bagi mereka yang mengambil bagi di dalamnya. Dia percaya bahwa kompleks hubungan-hubungan sosial yang menyusun sebuah masyarakat dapat dimengerti hanya dengan mencapai sebuah pemahaman mengenai segi-segi subjektif dari kegiatan-kegiatan antarpribadi dari para anggota masyarakat itu. Oleh karena itu, melalui analisis atas berbagai macam tindakan manusia lah, kita memperoleh pengetahuan mengenai ciri dan keanekaragaman masyarakat manusia.

Pendekatan Webber
Webber mendefinisikan sosiologi sebagai sebuah ilmu yang mengusahakan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial agar dengan cara itu dapat menghasilkan sebuah penjelasan kausal mengenai pelaksanaan dan akibat-akibatnya. Webber membedakan tindakan dari tingkah laku pada umumnya dengan mengatakan bahwa sebuah gerakan bukanlah sebuah tindakan kalau gerakan itu tidak memiliki makna subjektif untuk orang yang bersangkutan. Ini menunjukkan bahwa seorang pelaku memiliki sebuah kesadaran akan apa yang ia lakukan yang bisa dianalisis menurut maksud-maksud, motif-motif dan perasaan-perasaan sebagaimana mereka alami.

Teori Webber tentang Manusia.

Teori Weber tentang manusia didasarkan pada penciriannya ada empat jenis tindakan manusia yaitu: tindakan rasional tujuan, rasional nilai, tindakan emosional, dan tindakan tradisional. Keempat tindakan ini merupakan cara para individu memaknai tindakannya. Oleh karena itu manusia adalah suatu makhluk religius dalam arti bahwa bahkan kegiatan-kegiatan ekonomisnya mengandaikan pandangan dunia umum tertentu yang ia pakai untuk membuat kehidupan dapat dipahami.

Teori Webber tentang Masyarakat
Analisis Webber tentang masyarakat dapat diambil dari gagasan idealnya tentang tindakan individual. Setiap individu yang berusaha mewujudkan kehendaknya akan mengalami bentrokan dalam realisasi tindakannya. Sehingga sebagai keseluruhan dari individu tadi masyarakat adalah sebuah keseimbangan yang kompleks dari kelompok-kelompok yang bertentangan.

Implikasi-Implikasi Praktis
Webber mengusahakan penelusuran perkembangan kapitalisme modern melalui pengaruh gagasan-gagasan religius, pandangannya mengenai rutinisasi kharisma, pemusatan dirinya pada tipe ideal organisasi birokratis rasional yang khas bagi negara-negara kapitalis modern.

Kritik dan Penilaian terhadap Webber

Kritik evaluatif atas Webber cenderung berpusat pada tuduhan bahwa dengan menekankan peranan nilai-nilai yang sangat relativistis dari asal-usul kharismatis, ia membuka jalan untuk gerakan-gerakan yang khas politis modern, seperti fasisme, yang menyebarkaluaskan organisasi efisien yang menyebarkan ciri-ciri irasional.

ALFRED SCHUTZ (Pendekatan Fenomenologi)

Landasan Teori
Analisis-analisis Schutz bersifat radikal dalam arti menolak banyak pengandaian ortodoksi ‘fungsionalisme-struktural’ yang berkuasa, cap yang diberikan kepada sintesis Talcott Parsons atas organisme Durkheim dan teori tindakan sosial Weber.

Pendekatan Schutz
Schutz memakai apa yang ia anggap sebagai piranti-piranti filsafat fenomenologis Edmund Husserl. Metode ini adalah memeriksa dan menganalisis kehidupan batiniah individu, yakni pengalaman-pengalamannya mengenai fenomena atau penampakan-penampakan sebagaimana terjadi dalam apa yang kadang disebut ‘arus kesadaran’.

Teori Schutz tentang Manusia
Schutz meletakkan hakikat kondisi manusia dalam pengalaman subjektif dalam bertindak dan mengambil sikap terhadap ‘dunia-kehidupan’ sehari-hari. Baginya, inilah sebuah dunia kegiatan praktis.

Teori Schutz tentang Masyarakat
Sebuah masyarakat adalah sebuah komunitas linguistik. Masyarakat berada melalui simbol-simbol timbal-balik. Oleh karena itu kesadaraan sehari-hari adalah kesadaran sosial atau kesadaran yang diwariskan secara sosial mengenai masyarakat. Dinia-kehidupan individu lalu merupakan sebuah dunia ‘inter-subjektif’ dengan makna-makna bersama dan rasa ketermasukan ke dalam sebuah kelompok.

Implikasi-Implikasi Praktis
Implikasi-implikasi idelisme praktis Schutz terutama adalah pada tingkah-laku penyelidikan sosiologis yang, bagi Schutz, bukanlah sebuah bidang keprihatinan praktis langsung. Tetapi pendekatan Schutz yang lebih bersahaja dan klaim terbatas yang dibuatnya untuk kesahihan metode sosiologis memiliki implikasi-implikasinya sendiri bagi pemahaman kita tentang diri kita sendiri.

Kritik dan Penilaian Terhadap Schutz
Dalam teori Schutz tidak ditemukan pemikiran mengenai kesamaan situasi-situasi, melainkan pusat perhatiannya adalah menemukan perbedaan-perbedaan yang ada di antara makna-makna dalam konteks-konteks yang berbeda. Teori Schutz yang dikembangkan terlalu cepat bergerak dari soal yang jelas bahwa hubungan-hubungan sosial yang jauh dari kesimpulan yang jelas bahwa kenyataan gagasan-gagasan ini sama sekali tergantung pada apa yang mungkin dipikirkan manusia.

Sumber Utama : Resume Buku 7 Teori Sosial dan web:www.indoforum.org/showthread.php?t=113595


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: