Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR DISIPLIN MENTAL DALAM PEMBELAJARAN IPS

BAB I

PENDAHULULAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar secara hakiki merupakan perubahan perilaku seorang individu baik secara kognitif, afektif dan psikomotor, secara menetap, dan bukan merupakan proses pertumbuhan. Pemahaman tentang belajar tersebut mensyaratkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menguasai berbagai materi dan ketrampilan. Pembelajaran dikategorikan berhasil apabila siswa mendapatkan serangkaian tambahan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya dibandingkan dengan sebelum mendapatkan pembelajaran.

Banyak strategi, metode dan implementasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa. Teori-teori belajar banyak diterapkan dalam pembelajaran untuk memberikan landasan kepada guru menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan sifat mata pelajarannya. Teori belajar yang beragam tentu saja menjadika guru perlu cermat dalam memilih teori pembelajaran yanga tepat dalam mengembangkan metode, strategi dan materi pembelajaran. Kesalahan dalam pemilihan penerapan teori pembelajaran menjadikan hasil yang diperoleh siswa dalam menyerap pembelajaran menjadi tidak maksimal.

Teori belajar yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori yang tergolong dalam teori klasik ini memang pada awalnya tidak berdasarkan pada eksperimen, namun hanya berdasar pada pemikiran saja. Teori disiplin mental ternyata sampai saat ini masih diterapkan dalam pembelajaran modern, walaupun merupakan teori pembelajaran yang sudah lama ditemukan.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tidak terlepas dari penerapan pembelajaran yang berbasis disiplin mental. Materi-materi pembelajaran disusun secara hirarki untuk dapat diberikan siswa secara bertahap dan terus-menerus. Karakteristik pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang lebih dominan dalam penguasaan materi, menjadikan teori disiplin mental mempengaruhi pengaruh untuk diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Pemikiran tentang perlunya dikaji tentang pengaruh teori disiplin mental dalam pembelajaran mendasari penulisan makalah ini yang terfokus pada implementasi teori belajar mental dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

 

B. Batasan Masalah

Luasnya cakupan tentang permasalahan teori disiplin mental dalam  pembelajaran, menjadikan perlunya pembatasan permasalahan. Dalam makalah ini hanya akan dibahas tentang dekripsi teori disiplin mental dan implementasinya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

 

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah: ”Bagaimana implementasi teori disiplin mental dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?”

 

D. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi teori belajar disiplin mental dalam kaitannya dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

 

E. Manfaat Penulisan

Manfaat teoritik dalam penulisan makalah ini adalah untuk memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang teori belajar disiplin mental, sedangkan manfaat secara praktis memberikan gambaran tentang implementasi dari teori disiplin mental untuk dapat dilaksanakan dalam proses belajar mengajar di sekolah.


BAB II

IMPLEMENTASI TEORI DISIPLIN MENTAL DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

A. Teori Belajar Disiplin Mental

Teori belajar disiplin mental berkembang sebelum abad ke-20. Teori ini tanpa dilandasi eksperimen, dan hanya berdasar pada filosofis atau spekulatif. Walaupun berkembang sebelum abad ke-20, namun teori disiplin mental sampai sekarang masih ada pengaruhnya, terutama dalam pelaksanaan pengajaran di sekolah-sekolah. Teori ini menganggap bahwa secara psikologi individu memiliki kekuatan, kemampuan atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengembangan dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi tersebut.

Teori belajar disiplin mental, merupakan salah satu pandangan yang mula-mula memberikan definisi tentang belajar yang disusun oleh filsuf Yunani bernama Plato. Pandangan filsafatnya yaitu tentang idealisme yang melukiskan pikiran dan jiwa yang bersifat dasar bagi segala sesuatu yang ada. Idealisme hanyalah ide murni yang ada di dalam fikiran, karena pengetahuan orang berasal dari idea yang ada sejak kelahirannya. Belajar dilukiskan sebagai pengembangan olah fikiran yang bersifat keturunan. Kepercayaa ini kemudian dikenal sebagai konsep “disiplin mental” (Bell Gredler, 1994: 21).

Penganut belajar disiplin mental contohnya Jean Jacgues Rousseau yang menggangap anak memiliki potensi-potensi yang masih terpendam, melalui belajar, anak harus diberi kesempatan mengembangkan atau mengaktualkan potensi-potensi tersebut. Sesungguhnya anak memiliki kekuatan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan dan mengembangkan dirinya sendiri (Andi, 2009: 1).

Teori disiplin mental menekankan pada latihan mental yang diberikan dalam bentuk studi. Disiplin mental juga dikenal dengan ungkapan disiplin formal. Gagasan utama disiplin mental adalah pada otak atau pikiran, yang dianggap sebagai benda nonfisik, terbaring tidak aktif  hingga ia dilatih. Kecakapan pikiran atau otak seperti ingatan, kemauan, akal budi, dan ketekunan, merupakan “otot-ototnya” pikiran atau otak tadi. Otak dipersepsikan seperti otot-otot fisiologis yang bisa kuat jika dilatih secara bertahap dan terus menerus serta dengan porsi yang memadai, maka otot-otot pikiran atau otak pun demikian halnya. Otak manusia  bisa kuat dalam arti lebih tinggi kemampuannya jika dilatih secara bertahap dan memadai (Asri Trianti, 2008: 1).

Apabila belajar ditinjau dari teori disiplin mental maka belajar lebih ditekankan pada masalah penguatan, atau pendisiplinan kecakapan berpikir otak, yang pada akhirnya menghasilkan perilaku kecerdasan. Contohnya, dalam konteks komunikasi, kecakapan berkomunikasi seseorang pun bisa dilatih sejak dini supaya berhasil dengan baik. Tampaknya memang benar bahwa ahli-ahli komunikasi praktis seperti ahli pidato, ahli kampanye, ahli seminar, dsb. Semuanya merupakan hasil dari proses latihan. Latihan dalam hal keahlian ini identik dengan pengalaman. Semakin lama pengalaman seseorang di bidangnya maka semakin ahli orang yang bersangkutan.

Menurut teori disiplin mental, orang dianggap sebagai paduan dari dua jenis zat dasar, atau dua jenis realitas, yaitu pikiran rasional dan organisme biologis. Dengan begitu maka konsep animal rasional digunakan untuk mengenali manusia, sedangkan yang didisiplinkan atau dilatih melalui pendidikan adalah pikiran (Asri Trianti, 2008: 2).

Menurut konsep ini pada dasarnya manusia terbentuk dari dua zat yakni mental dan fisik secara berpadu. Bagaimana pun juga, pikiran dan badan atau zat rohaniah dan zat badaniah tidak mempunyai karakteristik umum (yang sama). Pemikiran akan konsep pikiran atau rohani sampai sekarang masih berlangsung, baik yang datangnya dari orang-orang primitif (yang mengatakan bahwa nyawa berpindah ketika sedang bermimpi), maupun konsep orang-orang sekarang yang lebih kompleks. Dalam hal ini orang melihat belajar sebagai proses perkembangan akibat dari adanya pelatihan pikiran atau otak. Dengan demikian maka belajar menjadi suatu proses yang terjadi di dalam di mana berbagai kekuatan seperti imajinasi, memori, kemauan, dan pikiran, diolah. Dan dari sana pendidikan pada umumnya dan belajar pada khususnya menjadi suatu proses disiplin mental.

B. Dua Aliran Teori Disiplin Mental

Teori disiplin mental setidaknya mempunyai dua versi pokok, yakni humanisme klasik dan psikologi kecakapan (faculty psychology). Masing-masing merupakan hasil dari perkembangan tradisi budaya yang berbeda. Humanisme klasik berasal dari Yunani kuno. Humanisme Klasik mempunyai dasar asumsi asumsi bahwa otak manusia merupakan satu pusat atau sentral yang aktif dalam berhubungan dengan lingkungannya, dan secara moral ia netral saat lahir. Humanisme adalah suatu pandangan dan jalan hidup yang berpusat pada kepentingan dan nilai-nilai manusia. Humanisme klasik itu hanya satu dari bentuk-bentuknya yang ada (Asri Trianti, 2008: 5).

Bentuk yang berlainan dari humanisme klasik adalah humanisme psikedelik (psychedelic humanism) dan humanisme saintifik (scientific humanism). Humanisme psikedelik menekankan kepada sifat-sifat keotonomian dan sifat-sifat aktif manusia dengan ciri “manusia melakukan dirinya sendiri”. Jenis humanisme ini meliputi psikologi belajar aktualisasi diri, yang memandang manusia sebagai individu yang baik dan aktif di dalam dirinya. Penekanan dalam belajarnya adalah pada pelatihan kekuatan mental secara internal. Jika seseorang ingin memiliki kecakapan atau keahlian di bidang tertentu, maka ia harus secara internal dan intensif, melatih dirinya di bidang tersebut, hingga mampu menguasainya. Jika Anda ingin menguasai bagaimana menyetir mobil, tentu harus berlatih sendiri secara intensif oleh Anda sendiri sampai bisa.

Humanisme Saintifik lebih menekankan kepada peningkatan kemampuan dengan jalan menerapkan proses pemecahan masalah secara ilmiah. Jenis humanisme ini sesuai juga dengan psikologi bidang Gestalt. Dengan berlatih menyelesaikan atau memecahkan masalah-masalah sosial, ujian, atau bidang permasalahan apapun, maka seseorang akan sampai kepada penguasaan atas permasalahannya tadi. Permasalahan yang lain pun pada akhirnya akan dapat dengan mudah diselesaikan.

Otak atau pikiran manusia dianggap sedemikian rupa sehingga dengan pengolahan yang memadai, otak dapat mengetahui dunia seperti pada kenyataannya. Manusia mempunyai kebebasan memilih dalam keterbatasan bertindak dilihat dari segi apa yang dipahaminya. Sebagai makhluk yang tidak hanya memiliki instink saja, orang lebih suka berusaha memahami sesuatu yang kompleks dan sulit-sulit, karena mempunyai dasar akal budi. Orang mampu berpikir rasa dan berpikir rasional. orang bertindak karena mereka paham akan apa yang dilakukannya. Dengan kata lain mereka menyadari akan perbuatannya, atau setidaknya mereka tahu dan berkeinginan untuk melakukan apa yang dikehendakinya.

Di dalam kerangka rujukan humanisme klasik, pengetahuan dianggap sebagai ciri bangun prinsip kebenaran yang pasti atau tetap, yang diteruskan sebagai warisan budaya atau sukunya. Prinsip prinsip ini telah ditemukan oleh para pemikir besar sepanjang sejarah manusia yang kemudian disusun ke dalam buku-buku besar. Menurut teori ini, kurikulum sekolah itu berdasar pada falsafah dan buku-buku klasik. Dan dalam hal ini, mempelajari buku-buku besar menjadi sesuatu yang penting. Contohnya misalnya di lembaga-lembaga pendidikan tradisional kita yang lebih menekankan kepada mempelajari buku-buku besar karangan para ahli di jaman lampau. Di lembaga-lembaga pesantren di Indonesia, sampai sekarang banyak yang mendasarkan diri pada buku atau kitab-kitab “kuning” sebagai bahan kajiannya.

Christian Wolff (1679-1754), seorang ahli filsafat Jerman, berpendapat bahwa pikiran atau otak manusia mempunyai kecakapan yang jelas dan berbeda-beda. Pada saat tertentu pikiran berada pada satu kegiatan khusus, dan pada saat lain terkadang sebagai bagian dari satu aspek dari kegiatan tertentu lain. Menurut Wolff, kecakapan dasar yang umum adalah: pengetahuan, perasaan, ingatan, dan akal budi inti. Sedangkan kecakapan akal budi meliputi kemampuan menggambarkan perbedaan-perbedaan dan menafsirkan atau menilai bentuk. Kecakapan kemauan dipercaya sebagai hasil perkembangan ide atau gagasan pikiran bahwa sifat manusia bisa dijelaskan melalui melihat dari segi prinsip ketidakbaikan (Asri Trianti, 2008: 7).

Sebenarnya disiplin mental telah ada sejak jaman kuno, dan pengaruhnya masih tampak dalam kegiatan komunikasi praktis, seperti di lingkungan pendidikan atau sekolahan, di lembaga lembaga non pendidikan, dan bahkan di organisasi-organisasi kemasyarakatan, sampai sekarang. Manusia mempunyai kelebihan dengan adanya kemampuan berpikir dan berakal budi, hal ini yang menyebabkan perkembangan yang berbeda. Sejak dahulu, semua binatang hanya mengandalkan instinknya saja dalam bergerak. Mereka tidak pernah ingin merubah kondisi kehidupannya untuk ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jaman. Sedangkan pada manusia, karena mempunyai nafsu dan kemauan yang dibarengi dengan kemampuan akalnya, maka dunia dikuasainya untuk dibentuk sesuai dengan seleranya.

Semua perubahan-perubahan itu terjadi karena manusia selalu mengalami belajar, mengalamami perubahan perilaku ke arah yang lebih berkualitas, dalam rangka meningkatkan kemampuannya,  terutama kemampuan akal dan budinya. Kita bisa mengembangkan konsep ini secara aplikatif.  Disiplin mental yang sebenarnya disebut juga dengan disiplin formal yang selalu tampak dalam hampir semua aspek pembelajaran manusia. Artinya, ketika manusia melakukan belajar, ia selalu mengalami pelatihan secara displin, baik internal maupun eksternal. Contoh dalam tataran praktis keseharian. Olahragawan terkemuka biasanya hasil latihan yang disiplin. Ilmuwan terkemuka juga merupakan hasil kerja keras belajar secara disiplin. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi ahli dalam bidang tertentu.

 

C. Penerapan Teori Belajar Mental dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Teori belajar disiplin mental menjadi dasar untuk disusunnya strategi dan model pembelajaran untuk diterapkan bagi siswa. Model pembelajaran yang dimaksud adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang menggunakan pembelajara di kelas atau pembelajaran dalam tutorial serta untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran (Triyanto, 2007: 1).

Dalam kalangan anak-anak, baik di lingkungan keluarga ataupun di sekolah, hampir semua aspek pembelajaran bisa dilakukan dengan cara disiplin, seperti pembiasaan secara tetap akan suatu pekerjaan, latihan tetap terhadap suatu keterampilan, disiplin diri dalam bertindak, displin mengendalikan diri, bekerja keras dengan disiplin tetap, serta adanya arahan-arahan motivasi dari pihak lain. Semua itu jika dilakukan akan menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan unggul di bidang yang dikerjakannya atau dilatihnya secara disiplin tadi. Memang, pada asalnya disiplin dilakukan oleh adanya aturan-aturan eksternal, namun secara tidak langsung, jika hal itu dilakukan secara terus menerus dalam waktu yang lama, akan menghasilkan perilaku disiplin internal.

Suatu pekerjaan jika dikerjakan secara terus  menerus dengan frekuensi yang relatif tetap, akan menjadikannya seseorang menjadi terbiasa dengan pekerjaannya itu.  Disiplin juga tidak hanya untuk hal-hal yang bersifat praktis, namun juga dapat bersifat mental. Sebagai contohnya, dengan telah melakukan ‘hafalan’ secara disiplin terhadap perkalian angka 1 x 1, sampai dengan perkalian 10 x 10, maka kita sekarang tidak perlu berpikir lagi jika ditanya, 6 x 7, 8 x 9, atau 7 x 7. Kita bisa langsung menjawab hasilnya dengan benar. Itu semua akibat dari hasil belajar melalui pola disiplin mental ketika kita di SD dulu. Disiplin mental dikenal juga dengan disiplin formal.

Teori disiplin mental relevan apabila diterapkan dalam sistem pembelajaran, karena kriteria belajar bagi siswa adalah adanya perubahan perilaku pada diri individu, perubahan perilaku yang terjadi hasil dari pengalaman, dan perubahan tersebut relatif menetap (Suciati, 2005: 13). Berdasarkan kriteria tersebut tentu saja teori belajar disiplin mental dapat diterapkan sebagai media untuk menambah pengetahuan untuk perubahan perilaku individu secara menetap dan berdasarkan hasil pengalaman dalam proses belajar mengajar.

Dalam ranah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, teori disiplin mental menjadi dasar dalam pembelajaran, yaitu dengan menggunakan strategi guru memberikan buku-buku yang relevan kepada siswa untuk dipelajari secara terus-menerus. Pembelajaran dengan teori ini, mengakselerasi siswa untuk selalu meningkatkan kemampuannya dan ketrampilannya dengan senantiasa belajar setiap hari, mempelajari materi-materi setiap hari, sehingga semua kompetensi yang distandarkan dapat dikuasai.

Standar kompetesi bahan kajian Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial dan Kewarganegaraan (Arnie Fajar, 2009: 105), adalah:

1.  Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang sistem sosial dan budaya dan menerapkannya untuk:

a.  Mengembangkan sikap kritis dalam situasi sosial yang timbul sebagai akibat perbedaan yang ada di masyarakat;

b.  Menentukan sikap terhadap proses perkembangan dan perubahan sosial budaya;

c.   Menghargai keanekaragaman sosial budaya dalam masyarakat multikultural.

2.  Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang manusia, tempat dan lingkungan serta menerapkannya untuk:

a.  Meganalisis proses kejadian, interaksi dan saling ketergantungan antara gejala alam dan kehidupan di muka bumi dalam dimensi ruang dan waktu;

b.  Terampil dalam memperoleh, mengolah dan menyajikan informasi geografis.

3.  Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang perilaku ekonom da kesejahteraan serta menerapkanya untuk:

a.  Berperilaku yang rasional dan manusiawi dalam memanfaatkan sumber daya ekonomi;

b.  Menumbuhkan jiwa, sikap dan perilaku kewirausahaa;

c.   Menganalisis sistem informasi keuangan lembaga-lembaga ekonomi;

d.  Terampil dalam praktik usaha ekonomi sendiri.

4.  Kemampuan memahami fakta, konsep, dan generalisasi tentang waktu, keberlanjuta dan perubahan serta menerapkannya untuk:

a.  Meganalisis keterkaitan antara manusia, waktu, tempat, dan kejadian;

b.  Merekonstruksi masa lalu, memaknai masa kini, dan memprediksi masa depan;

c.   Menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, kultural, agama, etnis dan politik dalam masyarakat dari pengalaman belajar peristiwa sejarah.

5.  Kemampuan memahami dan meninternalisasi sistem berbansa dan bernegara serta menerapkannya untuk:

a.  Mewujudkan persatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945;

b.  Membiasakan untuk mematuhi norma, menegakkan hukum, dan menjalankan peraturan;

c.   Berpartisipasi dalam mewujudkan masyarakat dan pemerintahan yang demokratis; menjunjung tinggi, melaksanakan dan menghargai HAM.

Berdasarkan karakteristik pembelajaran ilmu-ilmu sosial dan kewarganegaraan tersebut tentu saja teori disiplin mental sangat dominan dipergunakan dalam pembelajaran terutama permasalahan pengetahuan tentang masalah konsep-konsep. Pengertian, definisi, kriteria dan materi-materi pembelajaran yang perlu dikuasai tentu saja diperlukan penerapan teori disiplin mental dalam proses pembelajarannya.

Penerapan secara nyata dalam proses belajar mengajar yang berhubungan dengan disiplin mental dalam setiap mata pelajaran (misalnya pembelajaran tingkat SMP) sebagai berikut:

1.  Pembelajaran Ekonomi

Guru memberikan materi pembelajaran tentang sistem perilaku ekonomi dan kesejahteraan dengan memberikan pengertian tentang sistem berekonomi, ketergantungan, sesialisasi dan pemberian kerja, perkoperasian, kewirausahaan, dan pengelolaan keuangan perusahaan. Materi-materi tersebut dapat disampaikan siswa dengan menerangkan atau mengunakan buku dan diakhir pembelajaran siswa mengerjakan LKS sebagai tes hasil evaluasi.

2.  Pembelajaran Sejarah

Guru dapat menggunakan gambar dan media lain dengan memberikan materi tentang dasar-dasar ilmu sejarah, fakta, peristiwa dan proses sejarah. Siswa diakhir pembelajaran diminta untuk menerangkan kembali tentang pembelajan tersebut agar lebih memperdalam materi pembelajaran bagi siswa lainnya.

3.  Pembelajaran Geografi

Guru dapat menggunakan peta dan diskusi tentang materi sistem informasi geografi, interaksi gejala fisik dan sosial, struktur internal suatu temat, interaksi keruangan dan persepsi lingkungan dan kewilayahan. Guru dapat memberikan tugas dengan mempelajari materi lain untuk memerdalam materi.

4.  Pembelajaran PKn

Guru dapat mengunakan strategi belajar kelompok, untuk membahas tentang persatuan bangsa, nilai dan norma, hak asasi mausia, kebutuhan hidup, kekuasaan dan politik, masyarakat demokratis, Pancasila da konstitusi negara serta globalisasi. Guru kemudian dapat bertanya kepada siswa satu persatu untuk menjawab pertanyaa dari guru untuk mengukur kedalaman pemahama materi.

Teori disiplin mental juga dapat dilaksanakan dengan menggunakan pembelajaran dengan strategi eksositori. Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan yang terpusat pada guru. Guru aktif membeerikan penjelasan atau informasi tererinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, ketrampila dan ilai-nilai kepada siswa. Hal yang esensial pada bahan pengajaran harus dijelaskan kepada siswa (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 172).

Guru juga dapat menggunakan strategi evaluasi dengan sistem menanyakan terus menerus pembelajaran yang dikuasai siswa secara lisan, sehingga guru dapat mengukur seberapa jauh siswa menguasai pembelajaran yang diberikan. Aplikasi pembelajaran dengan teori disiplin mental memang mengedepankan aspek penguasaan materi dan ketrampilan berdasarkan pada pengasahan otak dan penambahan materi  pembelajaran kepada siswa.

Teori disiplin mental dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sesungguhnya banyak sekali sistem penerapannya. Fokus dari disiplin mental adalah memberikan peningkatan pengetahuan setiap waktu agar semakin lama siswa semakin memahami tentang materi pembelajaran. Peningkatan pengetahuan yang dilaksanakan secara bertahap penting dilaksaakan dalam teori disiplin mental. Tambahan pemahaman dan materi tersebut merupakan indikasi keberhasilan dari teori disiplin mental.

Teori disiplin mental apabila diimplementasikan dampak positifnya menjadikan siswa semakin hari-semakin meningkat kemampuannya dalam menguasai materi dan ketrampilan. Siswa menjadi disiplin untuk mempelajari materi pembelajaran setahap-demi setahap, dan semakin lama akan semakin banyak. Dampak negatif dari penerapan disiplin mental apabila dilaksanakan secara dominan dan tidak memperhatikan faktor-faktor psikologi akan menjadi siswa menjadi tegang, dan proses belajar mengajar tidak bervariatif. Segi kognitif siswa yang kadang-kadang tidak cocok dengan metode pembelajaran berbasis disiplin mental menjadi terbebani dengan pembelajaran tersebut.

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan tentang implementasi disiplin mental dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial antara lain:

1.     Teori disiplin mental adalah teori pembelajaran yang berasumsi bahwa otak manusia perlu senantiasa dilatih secara terus menerus dengan cara memberikan materi secara terus-menerus. Strategi pembelajaran disiplin mental dengan memberikan buku-buku literatur untuk dipelajari, melatih disiplin belajar, senantiasa terdapat pemantauan terhadap hasil belajar, disiplin kerja dan semua hal yang menyangkut kesiplinan dalam belajar.

2.     Implementasi teori disiplin mental dalam pembelajaran, khususnya dalam Ilmu Pengetahuan Sosial dilaksanakan dengan cara merancang materi-materi pembelajaran secara bertahap, kemudian memberikan materi-materi kepada anak, dan memberikan evaluasi berbasis disiplin mental. Materi-materi pembelajaran IPS dan Kewarganegaraan senantiasa diberikan kepada siswa agar siswa dapat menguasai semua materi pembelajaran.

3.     Kelebihan dari teori disiplin mental yang diimplementasikan kepada siswa antara lain siswa dapat  menguasai materi pembelajaran secara bertahap dan terus menerus, namun apabila teori belajar disiplin mental dilaksanakan secara dominan tanpa memperhitungan unsur psikologi menjadikan siswa terbeban pikirannya dan tidak mampu mengikuti pembelajaran secara maksimal.


B. Saran

Teori belajar disiplin mental memang tidak dapat terpisahkan dari proses belajar mengajar di lembaga pendidikan. Materi-materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh siswa, mengimplementasikan teori pelajar disiplin mental. Guna memperoleh hasil belajar yang maksimal teori disiplin mental dalam pembelajaran tidak dilaksanakan secara murni dan mutlak. Teori disiplin mental dipadukan dengan teori disiplin lain, dan senantiasa mempertimbangkan segi-segi psikologi, strategi, metode, dan karakteristik pembelajaran yang sedang diajarkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andi. (2009). Teori Belajar. Diambil pada tanggal 12 Oktober 2009, dari http://www.http://andi1988.wordpress.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2.

Arnie Fajar. (2009). Portofolio dalam pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Asri Buduningsih. (2006). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Asri Trianti. (2008). Teori disiplin mental. Diambil pada tanggal 12 Oktober 2009, dari: http://www.candilaras.co.cc/2008/05/teori-disiplin-mental.html

Bell Gredler, Margaret E. (1994). Belajar dan membelajarkan. (Terjemahan Munandir). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Made Pidarta. (2000). Landasan pendidikan stimulus ilmu pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. (2003). Belajar dan fakto-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Suciati. (2005). Belajar dan Pembelajaran I. Jakarta: Universitas Terbuka.

 

Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.


Responses

  1. salam kenal ya, saya dari magister PIPS Universitas PGRI Yogyakarta


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: