Oleh: Supri Hartanto | 4 November 2010

AMERIKA GAGAL MEMPERTAHANKAN VIETNAM SELATAN

Menganalisis permasalahan kajian aktual, yang mengkorelasikan peristiwa Amerika Serikat yang gagal mempertahankan Vietnam Selatan, dapat dikaji melalui sudut padang politik antarbangsa. Ketidakterlibatan Indonesia dalam permasalahan Amerika dan Vietnam Selatan secara moril tidak akan membawa dampak kredibilitas   Indonesia. Namun,   apabila     sudut pandang kajian diarahkan kepada permasalahan sejarah tentang komunisme di Indonesia, tentu masih terdapat benang merah dari dampak gagalnya Amerika Serikat dalam mempertahankan Vietnam Selatan. Amerika Serikat yang gagal membendung kekuatan Vietnam Utara yang berbasiskan komunisme yang didukung oleh  Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet dapat menjadi inspirasi sisa-sisa komunisme yang ada di Indonesia.

Dalam buku “Amerika Gagal Mempertahankan Vietnam Selatan” dipaparkan secara detail berbagai permasalahan tentang gerakan komunisme di Vietnam, rejim Vietnam sesudah perjanjian Jeneva serta jatuhnya rejim Vietnam Selatan ke tangan Komunis. Buku yang ditulis dengan bahasa lugas dengan enam bab sebagai pendukung landasan historis ini, sengaja ditulis untuk memaparkan bagaimana kondisi strategi Amerika Serikat baik secara politis maupun kekuatan senjata untuk membendung komunisme, walaupun akhirnya harus mengalami kegagalan.

Kajian awal pada bab pertama memberikan gambaran bagaimana latar motivasi Amerika Serikat untuk mempertahankan Vietnam Selatan sebagai strategi untuk membendung kekuatan komunisme dari Vietnam Utara yang notabene didukung oleh Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet. Kajian sejarah yang mengangkat peristiwa proteksi Amerika Serikat terhadap Vietnam Selatan pasca perang dunia II tahun 1954, juga disajikan gambaran perang yang telah berjalan sembilan tahun sejak bulan Juli 1965.

Komitmen Ho Chi Minh untuk memperjuangkan keutuhan Vietnam dengan menghapuskan stratifikasi masyarakat dengan basis sosialisme menjadi awal untuk menganalisis tentang berbagai permasalahan di Vietnam. Idealisme komunisme yang telah mengakar dalam Ho Chi Minh sepaham dengan kehendak masyarakat dalam mempersiapkan kemerdekaan mengusir penjajah sekitar tahun 1940 yang dimotori oleh Gerakan Nasional Vietnam yang bernuansa komunisme.

Kesamaan tujuan untuk mengusir penjajah, menjadikan nasionalis dan komunis banyak mempunyai persepsi bersama sehingga keduanya tidak banyak mempunyai beda komitmen. Bila ditinjau dari ajarannya tentu saja komunisme mempunyai spesifikasi gerakan yang berhaluan ekstrim dan dapat menghalalkan segala cara sehingga dalam perjuangannya sering menggunakan kekerasan peperangan kelas maupun revolusi. Dalam gerakan komunisme rakyat atau petani pedesaan menjadi fokus utama dari subjek perjuangan.

Politik praktis Ho Chi Minh dibuktikan pada tanggal 19 Mei 1941 dengan mendirikan Viet Minh (Vietnam Doc Lap Dong Mint) yaitu Liga Kemerdekaan Vietnam. Kaum Nasionalis dilibatkan dalam upaya merumuskan cita-cita rakyat Vietnam sebagai strategi merangkul kekuatan Nasionalis untuk mendukung komunisme sehingga terbentuklah Liga Revolusi Vietnam (Dong Mihn Hoi) pada tanggal 10 Oktober 1942. Kekuatan Ho Chi Minh menjadi lebih besar manakala bertemu dengan Pham Van Dong dan Vo Nguyem Giap maupun pelatihan perang gerilya yang dilakukan oleh Chiang Kai Shek sebagai tokoh Kuomintang.

Hambatan kemerdekaan dari negara Perancis (1946-1954) menjadikan Vietnam menandatangani perjanjian yang isinya pasukan Perancis diijinkan menempati beberapa tempat di Vietnam Utara yang sudah dikuasai Republik Demokrat Vietnam (RDV). Perjanjian tersebut membuka kesempatan kaum komunis melebarkan pengaruhnya dengan berbagai aksi, antara lain pengejaran kaum nasionalis, maupun mengadakan kontak senjata dengan Perancis untuk memperluas wilayahnya. Kekalahan komunisme dalam kontak senjata memberi inspirasi komunisme untuk mengubah strategi menjadi strategi gerilya yang terbukti lebih efektif dan berhasil sehingga terjadilah Perjanjian Jeneva 26 April 1954. Sejak perjanjian Jeneva dengan jatuhnya Vietnam Selatan pada tahun 1975, menjadikan kemenangan komunisme untuk menyatukan Vietnam Utara dan Selatan dalam basis komunis. Benteng Perancis Dien Bien Phu sebagai simbol kekalahan Perancis terhadap komunisme di Vietnam, berdasarkan perjanjian Jeneva memecah daerahnya menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, dan Perancis menerahkan perannya kepada Amerika.

Ngo Dihn Diem sebagai Presiden merangkap Perdana Menteri di Vietnam Selatan berusaha membenahi struktur pemerintahannya yang terbengkalai karena banyaknya permasalahan yang ada di Vietnam Selatan. Pembenahan  bidang politik/pertahanan, pendidikan, ekonomi dan sosialpun dibenahi. Bidang politik difokuskan pada pembendungan pengaruh komunisme di Vietnam Selatan, bidang pendidikan dikonsentrasikan pada peningkatan pendidikan masyarakat, bidang ekonomi dengan  rencana pembangunan ekonomi dan bidang sosial dengan memperhatikan petani-petani kecil.

Keterlibatan Amerika Serikat di Vietnam dilatarbelakangi pasca Perang Dunia II karena timbulnya perang dingin dan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat.  Perang dingin ditandai dengan perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Kebijakan politik Amerika dengan slogan Containment Policy menggambarkan suAtu politik yang bertujuan mencegah berkembangnya pengaruh suatu negara atau suatu sistem politik dari pihak yang dipandang lawan oleh karena itu Amerika Serikat berusaha membendung kekuatan lawannya yaitu komunisme di Vietnam Selatan.

Kondisi Vietnam sekitar tahun 1954 yang instabilitas negaranya kurang karena dirongrong oleh kekuatan komunisme, menjadikan pemerintah Vietnam di bawah kepemimpinan Ngo Dinh Diem membuka diri atas bantuan Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat pun berusaha konsisten atas politik containment policy di kawasan Asia Tenggara dan menggunakan Teori Domino Eisenhower-Dulles. Teori ini dijadikan ukuran kegiatan komunis di suatu tempat. Bila sesuatu negara jatuh ke tangan komunisme, negara lain yang bertetangga akan jatuh pula.

Kehadiran Amerika di Vietnam Selatan ternyata tidak diterima oleh kalangan masyarakat, hal ini terjadi karena rakyat merasa hidup dalam penjajahan lagi. Masyarakat merasa jenuh dan tersiksa karena baru saha menikmati kemerdekaan bebas dari penjajahan asing Perancis tiba-tiba datang bangsa asing lain yaitu Amerika. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya organisasi pembebasan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan (FPNVS) yang menimbulkan perang saudara antara pemerintah Amerika  Serikat dan dengan Front Pembebasan Nasional Vietnam Selatan.

Analisis kajian tentang keterlibatan Amerika Serikat yang ditinjau dari dua paparan yaitu situasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II dan situasi Vietnam tahun 1954 menjadi latar campur tangan Amerika Serikat mengenai masalah Vietnam Selatan dan Indocina. Peperangan yang terjadi selama sembilan tahun sejak 1956 merupakan salah satu upaya Amerika Serikat dalam memproteksi Vietnam-Selatan dari ancaman komunis Vietnam Utara yang didukung oleh Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet.

Strategi proteksi Amerika Serikat terhadap Vietnam Selatan dilaksanakan dengan dwistrategi yaitu pembentukan organisasi pertahanan Asia Tenggara yaitu SEATO (Southeast Asia Treaty Organization), serta memberikan dukungan hegemoni kekuasaan terhadap rezim yang berkuasa di Vietnam Selatan. Kedua strategi ini ditempuh Amerika Serikat untuk membendung inviltrasi komunis dari Vietnam Utara baik secara organisasi maupun fisik. Keyakinan Amerika Serikat terhadap pelaksanaan strategi tersebut dibuktikan dengan dukungan material dan pasukan dalam jumlah yang relatif besar.

Berdasarkan kajian tentang keinginan Amerika Serikat yang untuk mempertahankan Vietnam Selatan terdapat dua faktor utama yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dalam dipengaruhi oleh persepsi rakyat terhadap pemerintah dan dominasi intervensi asing khususnya Amerika Serikat dan faktor dari luar dari keinginan yang kuat dari Vietnam Utara yang menghendak agar Vietnam Selatan tetap menjadi negara kesatuan yaitu Republik Demokrasi Vietnam.

Terbentuknya Vietnam Selatan menjadi negara sosialis dalam kerangka Republik Sosialis Vietnam membawa dampak buruk bagi kemerosotan bidang sosial, ekonomi, militer dan juga pada bidang politik. Keterpurukan tersebut dipicu oleh kegagalan Amerika Serikat untuk mempertahankan Vietnam Selatan sebagai upaya membendung pelebaran kekuasaan komunis di Vietnam. Kegagalan ini juga membawa preseden buruk bagi Amerika Serikat karena kehilangan kepercayaan dari negara-negara Asia Tenggara.

Buku yang bernilai historis ini, menarik untuk disimak karena mengandung nilai-nilai perjuangan dan politis yang kuat sehingga dapat dijadikan referensi wacana ilmiah. Nilai-nilai positif perlu diimplimentasikan sedangkan nilai-nilai kurang kurang sesuai dengan kondisi normatif Indonesia tidak perlu dilestarikan.

Data Buku

Judul Buku    : Amerika Gagal Mempertahankan

Vietnam Selatan

Penyusun      : Drs. John Sabari, M.Si

Penerbit       : MU:3 Communication

Alamat         : Jln Veteran 51 Yogyakarta

Tebal buku    : viii, 113


Responses

  1. waw keren mas! makasih banyak

  2. siipp banget pokoe pak..
    makasih banget banyak refrensi yang kudapatkan.
    pokoe pak supri TOP BGT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: